Kemenkes Beberkan Kekurangan 2.775 Dokter Gigi di Daerah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap kebutuhan mendesak tenaga dokter gigi sebanyak 2.775 orang di layanan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta besarnya nilai belanja alat kesehatan gigi nasional dalam periode tiga tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Dirjen Falkes) Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia dalam pembukaan Indonesia Dental Exhibition and Conference (IDEC) 2025.
Dia menyebut masih terdapat 40% puskesmas yang belum memiliki sembilan tenaga kesehatan lengkap per 1 Oktober 2025, dengan kekurangan terbesar berasal dari tenaga dokter gigi.
Baca Juga
Menperin Bakal Perbaiki Tata Kelola untuk Tekan Harga Obat dan Alkes RI
“Kita masih kurang 2.775 dokter gigi hanya untuk puskesmas, dan ini berdampak pada pemerataan layanan,” ungkap Rizka dalam acara IDEC 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Sementara itu, masalah kesehatan gigi dan mulut juga tercatat tinggi. Menurut Rizka, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sekitar 57% penduduk usia di atas 3 tahun melaporkan keluhan gigi dan mulut dalam satu tahun terakhir. Prevalensi masalah gigi mencapai 31% pada balita hingga anak sekolah, 50% pada remaja, 41,6% pada orang dewasa, dan 59,4% pada kelompok lansia.
Dari sisi alat kesehatan, lanjut Rizka, pemerintah mendorong pemenuhan berbasis produksi dalam negeri. Dia memaparkan, sepanjang 2022 – 2024, nilai transaksi belanja alat kesehatan (alkes) gigi pemerintah melalui LKPP mencapai sekitar Rp 700 miliar. “Transaksi belanja alat kesehatan gigi cukup tinggi, sekitar Rp 700 miliar, terutama untuk consumables,” jelas Rizka.
Kemenkes juga memenuhi kebutuhan dental chair dan perangkat pendukung di fasilitas kesehatan primer melalui program Strengthening of Primary Health Care in Indonesia (SOPHI), termasuk untuk daerah terpencil. “Kami ingin alat kesehatan gigi tersedia dan terdistribusi sampai pelosok daerah,” tutur Rizka.
Ia menegaskan, pemerintah menargetkan lahirnya ekosistem alat kesehatan gigi nasional yang kompetitif dan terjangkau. Rizka meminta dukungan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) untuk mempercepat penambahan jumlah dokter gigi dan meningkatkan penggunaan alat kesehatan produksi dalam negeri di institusi pendidikan. “Mahasiswa (kedokteran gigi) harus dikenalkan dengan produk lokal sejak di bangku kuliah agar tidak kesulitan beradaptasi saat praktik,” terang dia.
Sementara itu, Ketua Umum PDGI Usman Sumantri menyoroti, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin berencana memenuhi fasilitas kesehatan kedokteran gigi di seluruh puskesmas Tanah Air, khususnya pengadaan rontgen gigi.
Baca Juga
Kemenperin Sebut Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Capai Pertumbuhan 6,7%
“Memang kebutuhan alat fasilitas kesehatan, farmasi dan sebagainya itu kan menjadi bagian dari kebutuhan sarana dan prasarana penunjang kerja dokter, baik spesialis dan puskesmas. Rekomendasinya apa? Kebutuhan alat itu tentu harus dipenuhi, bahkan Pak Menteri (Menkes, Budi Gunadi Sadikin) sudah berjanji, rontgen gigi pun akan disediakan oleh Kemenkes,” kata Usman.
IDEC 2025 menghadirkan para eksibitor yang berpartisipasi tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga internasional seperti dari Jerman, Korea Selatan, China, Turki, India dan banyak negara lainnya. Brand besar, seperti Cobra Dental, Mandala Mitratama, Labora, Dental Jaya, Bintang Saudara, hingga J. Morita MFG. Corp. Indonesia kembali hadir, bersama dengan Bryant Dental, Planmeca, Erkodent, dan berbagai merek terkemuka lainnya dari seluruh dunia, termasuk Korea Selatan.
Dengan tema “Transformation of Dental Health Resiliency”, IDEC 2025 diproyeksikan untuk mempertemukan lebih dari 250 merek lokal dan internasional yang akan menampilkan beragam produk dan teknologi terbaru, mulai dari perangkat imaging digital, CAD/CAM, hingga solusi berbasis kecerdasan buatan (AI).

