AI Mampu Dongkrak PDB ASEAN 13%, Kemenperin Bidik Lonjakan Manufaktur 25% Tahun 2030
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut penerapan kecerdasan buatan (AI) di sektor manufaktur menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing industri menuju target Indonesia Emas 2045.
Staf Ahli Bidang Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Andi Rizaldi mengutip survei Deloitte 2025, di mana 93% pelaku industri manufaktur menilai AI sebagai teknologi kunci. Sebanyak 29% perusahaan menempatkan AI sebagai fokus investasi, melampaui Internet of Things (27%) dan Edge Computing (16%).
Menurut Andi, studi regional menunjukkan bahwa penerapan AI di kawasan ASEAN berpotensi menambah USD 950 miliar terhadap PDB ASEAN pada 2030, setara dengan 13% dari total ekonomi kawasan.
“AI bukan lagi teknologi masa depan, tapi kebutuhan saat ini untuk mempercepat pertumbuhan industri,” ujarnya dalam InaRI EXPO 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Selasa (28/10/2025).
Kemenperin diketahui telah menyiapkan peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai arah kebijakan transformasi industri digital. Lima sektor prioritas awal mencakup makanan-minuman, otomotif, tekstil, elektronika, dan kimia, kemudian diperluas ke sektor farmasi dan alat kesehatan pascapandemi COVID-19.
Andi menjelaskan, AI menjadi “otak” dari seluruh teknologi industri 4.0 karena menopang IoT, cloud computing, cybersecurity, hingga advanced robotics. “Dengan integrasi teknologi tersebut, industri nasional bisa mencapai efisiensi tinggi dan berdaya saing global,” katanya.
Melalui implementasi Making Indonesia 4.0, Kemenperin menargetkan kontribusi manufaktur naik di atas 25% terhadap PDB nasional pada 2030. Program ini juga diharapkan menciptakan lebih dari 10 juta lapangan kerja baru dan menambah pertumbuhan ekonomi 1-2% per tahun.
Hingga kini, 29 perusahaan nasional telah menerapkan sistem industri 4.0 di berbagai sektor strategis. Transformasi digital terbukti mengurangi waktu desain produk hingga 60% dan meningkatkan produktivitas sampai 100%.
Sejumlah perusahaan seperti PT Pegatron dan PT Bright Mobil Indonesia (Oppo) menjadi contoh sukses integrasi AI di lini produksi. Adopsi AI juga meluas ke startup lokal yang mengembangkan platform untuk mendukung digitalisasi industri kecil dan menengah.
“AI dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan PDB hingga 30%,” tegas Andi.
Andi menjelaskan, AI menjadi “otak” dari seluruh teknologi industri 4.0 karena menopang IoT, cloud computing, cybersecurity, hingga advanced robotics. “Dengan integrasi teknologi tersebut, industri nasional bisa mencapai efisiensi tinggi dan berdaya saing global,” katanya.
Melalui implementasi Making Indonesia 4.0, Kemenperin menargetkan kontribusi manufaktur naik di atas 25% terhadap PDB nasional pada 2030. Program ini juga diharapkan menciptakan lebih dari 10 juta lapangan kerja baru dan menambah pertumbuhan ekonomi 1-2% per tahun.
Hingga kini, 29 perusahaan nasional telah menerapkan sistem industri 4.0 di berbagai sektor strategis. Transformasi digital terbukti mengurangi waktu desain produk hingga 60% dan meningkatkan produktivitas sampai 100%.
Sejumlah perusahaan seperti PT Pegatron dan PT Bright Mobil Indonesia (Oppo) menjadi contoh sukses integrasi AI di lini produksi. Adopsi AI juga meluas ke startup lokal yang mengembangkan platform untuk mendukung digitalisasi industri kecil dan menengah.
“AI dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan PDB hingga 30%,” tegas Andi.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, riset, dan industri akan mempercepat lahirnya ekosistem manufaktur cerdas yang berkelanjutan.

