Sepatu Bata (BATA) Stop Produksi, BKPM Pastikan Bukan gegara Iklim Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Nurul Ichwan memastikan PT Sepatu Bata Tbk (BATA) stop produksi bukan karena iklim investasi di Tanah Air tidak kondusif.
Nurul Ichwan menjelaskan, apa yang dialami produsen sepatu yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 24 Maret 1982 itu tidak lepas dari persaingan yang semakin ketat di industri sepatu dan alas kaki. Kompetisi yang kian ketat memaksa emiten yang 82,01% sahamnya dikuasai Bafin (Nederland) BV ini menghentikan produksinya.
"Persaingan di industri sepatu dan alas kaki memang sangat kompetitif, termasuk disebabkan faktor inovasi yang dilakukan para pelaku baru maupun yang sudah existing," kata Nurul Ichwan saat ditemui di sela-sela acara “Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025” di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Sabtu (11/10/2025).
Baca Juga
Pakistan Tertarik Berinvestasi Sektor Pendidikan dan Perumahan di IKN
BATA resmi menghapus kegiatan usaha industri alas kaki untuk kebutuhan sehari-hari sebagaimana diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 25 September 2025. Jauh sebelum itu, BATA telah menghentikan operasional pabriknya di Purwakarta per 30 April 2024.
Menurut Nurul Ichwan, industri alas kaki menjadi sangat kompetitif lantaran para pelaku bisnis terus memacu inovasi dan efisiensi model usaha. Kini, para produsen sepatu global umumnya tidak memproduksi sepatu sendiri, melainkan fokus kepada riset, pengembangan, desain, hingga pengendalian kualitas produk. Mereka mengalihkan produksi kepada pabrikan lain melalui skema bisnis alih daya (outsourcing).
Baca Juga
Indonesia Butuh US$ 650 Miliar Investasi Infrastruktur untuk Tumbuh 8%
“Sekarang ini kan lebih banyak orang melakukan kegiatan mendesain dan kemudian meningkatkan quality atas materialnya. Juga secara teknis bagaimana bisa membuat sepatu yang lebih sehat, lebih nyaman,” papar dia.
Nurul Ichwan menduga, BATA masih menggunakan model bisnis lama serta melakukan proses produksi sendiri. Alhasil, mereka sulit bersaing dengan pelaku industri yang baru. “BATA ini kan masih bikin sepatu sendiri, sehingga model bisnis ini mungkin tidak lagi kompetitif,” tutur dia.
Baca Juga
Rosan Sebut Kunci Investasi Bukan Sekadar Modal, tapi Kebijakan dan SDM
Nurul Ichwan menegaskan, kasus yang dialami BATA tidak bisa langsung diartikan bahwa iklim investasi di Indonesia sudah tidak kondusif. “Jangan kemudian kita menyimpulkan, oh kalau dia tutup di Indonesia berarti di Indonesia tidak ramah investasi. Jangan lupa ada persaingan pasar nih, urusannya business to business,” tandas dia.
Perihal dampak terhadap investasi sektor alas kaki nasional, Nurul mengakui, penutupan BATA bisa berdampak terhadap tenaga kerja. Namun, dia optimistis sektor ini masih memiliki prospek kuat untuk tumbuh, terutama dengan munculnya peluang investasi baru.

