Pemerintah Rencanakan Tambahan Panel Surya 100 GW Bisa Jadi Senjata Baru bagi Para Nelayan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah berencana untuk membangun panel surya dengan total kapasitas 100 gigawatt (GW). Program ini dibuat bukan hanya untuk mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi emisi karbon, tapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa pengembangan energi surya akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan desa-desa.
“Kita akan bangun solar panel yang ada di satu desa, bisa 1 atau 1,5 megawatt (MW) setiap desa atau sesuai dengan kemampuan. Tetapi kita ke depan akan membangun 80-100 gigawatt,” kata Eniya dalam Indonesia Energy Transition Dialogue (IETD) 2025, Senin (6/10/2025).
Dia mengungkapkan, target penambahan solar panel 100 GW ini jauh melampaui proyeksi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang hanya sebesar 17 GW.
“Ini adalah akselerasi untuk mendorong pertumbuhan, menciptakan demand untuk solar panel karena membutuhkan baterai juga, menghidupkan industri PLTS yang sudah ada di Indonesia, dan menciptakan lapangan kerja baru,” jelas dia.
Salah satu strategi yang disiapkan adalah menciptakan permintaan baru (demand creation). Eniya mencontohkan pemanfaatan panel surya untuk cold storage nelayan.
Baca Juga
Prabowo Ingin Setiap Desa Punya Solar Panel 1,5 MW, Target 100 GW
Selama ini, nelayan kerap kesulitan menjaga kesegaran hasil tangkapan karena keterbatasan fasilitas pendingin. Dengan dukungan energi surya, penyimpanan ikan akan lebih terjamin dan nelayan dapat menjual hasil tangkapan ke pasar yang lebih luas.
“Jadi, demand creation kita melihatnya misalnya seperti pemakaian fotovoltaik di cold storage. Nelayan-nelayan kita sekarang ingin cold storage karena panennya banyak, tetapi ingin dijual ke tempat lain. Ini sering terkendala,” ungkapnya.
Sebagai informasi, fotovoltaik (PV) adalah teknologi untuk mengubah cahaya matahari secara langsung menjadi energi listrik menggunakan sel surya atau panel surya yang terbuat dari bahan semikonduktor seperti silikon
Selain itu, Eniya juga menceritakan pengalaman melihat kapal nelayan yang sudah menggunakan panel surya di atapnya. Energi yang tersimpan di baterai memungkinkan nelayan menyalakan lampu saat melaut pada dini hari tanpa harus bergantung pada solar atau diesel.
“Ini sangat efektif sekali, lebih hemat dan ramah lingkungan,” ujar Eniya.
Ke depan, pemanfaatan fotovoltaik tidak hanya diarahkan untuk nelayan. Panel surya juga akan dipasang di atap rumah penduduk, koperasi desa, fasilitas kesehatan seperti puskesmas, hingga mendukung percepatan penggunaan kendaraan listrik.
“Program-program kecil seperti ini akan kita dorong dalam penggunaan 100 gigawatt fotovoltaik,” tegasnya.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap pengembangan PLTS tak hanya memperkuat transisi energi nasional, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kelompok yang selama ini menghadapi kendala energi dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

