Pendapatan OpenAI Tembus Rp 69,8 Triliun di Paruh Pertama 2025, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Perusahaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) OpenAI mencatat pendapatan sekitar US$ 4,3 miliar (sekitar Rp 69,8 triliun) pada paruh pertama 2025. Angka tersebut meningkat 16% dibandingkan total pendapatan sepanjang 2024.
Berdasarkan laporan The Information, Selasa (30/9/2025), mengutip dokumen keuangan untuk pemegang saham, capaian tersebut menempatkan OpenAI berada untuk mencapai target pendapatan tahunan US$ 13 miliar pada akhir tahun. Performa itu sekaligus menegaskan posisi OpenAI sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem AI yang tengah berkembang cepat.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut diiringi tingginya pengeluaran. OpenAI tercatat membakar uang sekitar US$ 2,5 miliar selama 6 bulan pertama 2025.
Baca Juga
Proyek Stargate Tambah 5 Data Center AI, OpenAI hingga SoftBank Gelontorkan US$ 400 Miliar
Sebagian besar pengeluaran tersebut dihabiskan untuk pengembangan AI dan operasional ChatGPT. Perusahaan menargetkan total pengeluaran mencapai US$ 8,5 miliar sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, beban terbesar berasal dari divisi riset dan pengembangan (R&D) yang mencapai US$ 6,7 miliar hanya dalam paruh pertama tahun ini. Biaya tersebut mencerminkan ambisi besar OpenAI di tengah kompetisi ketat dari pesaing seperti Anthropic, Google, hingga Meta.
Perusahaan yang dipimpin Sam Altman itu masih memiliki sekitar US$ 17,5 miliar dalam bentuk kas dan surat berharga per akhir Juni 2025, yang menjadi modal penting untuk ekspansi dan investasi jangka panjang. OpenAI diperkirakan akan terus meningkatkan kapasitas komputasi dan infrastruktur guna mendukung pertumbuhan permintaan dari pengguna individu maupun korporasi.
Baca Juga
Dorongan besar bagi ekspansi OpenAI datang dari Nvidia, yang pekan lalu mengumumkan rencana investasi hingga US$ 100 miliar sekaligus menyediakan cip pusat data canggih. Langkah tersebut diharapkan mempercepat pengembangan model AI OpenAI dan meningkatkan efisiensi dalam pengolahan data berskala besar.
Pada Agustus lalu, OpenAI diketahui tengah menjajaki penjualan saham sekunder yang memungkinkan karyawan mencairkan kepemilikan saham mereka. Kesepakatan ini berpotensi menilai perusahaan pada valuasi sekitar US$ 500 miliar, yang mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek jangka panjang OpenAI.

