Indonesia Punya Potensi EBT 3.687 GW, tapi Baru 0,4% yang Dimanfaatkan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan Indonesia memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang sangat melimpah, yakni mencapai 3.687 gigawatt (GW). Namun, sejauh ini yang baru termanfaatkan hanya 15,2 gigawatt (GW) alias 0,4%.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, sebagai upaya pemanfaatan potensi EBT tersebut, pemerintah telah menyusun Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034 dan menargetkan penambahan kapasitas sebesar 42,6 GW.
“Untuk ini kita sudah petakan itu berdasarkan wilayah, untuk wilayah Sumatra sekitar 9,5 GW, kemudian Kalimantan 3,5 GW, untuk Sulawesi 7,7 GW, untuk Nusa Tenggara, Maluku, Papua 2,3 GW, sementara untuk Jawa, Madura, Bali 19,6 GW,” kata Yuliot dalam acara Investortrust Green Energy Summit (IGES) 2025 di Hotel JW Marriot, Jakarta, Selasa (23/9/2025).
Dia berharap, dengan adanya energi baru terbarukan (EBT) tersebut akan berdampak terhadap perbaikan iklim dan mencapai target net zero emission (NZE) sesuai dengan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement.
Kendati demikian, Yuliot tidak memungkiri bahwa untuk program pengembangan EBT sebagaimana yang tercantum dalam RUPTL 2025-2034 dibutuhkan investasi yang tidak sedikit, yakni mencapai Rp 1.682 triliun. Namun, investasi ini akan membuka lapangan kerja baru dan mengurangi emisi karbon.
Baca Juga
Gandeng HyET Group dari Belanda, Pertamina NRE Akselerasi Teknologi EBT
“Ini akan menciptakan lapang kerja baru sebanyak 760.000 green jobs yang akan dikreasikan. Kemudian ini juga penurunan emisi sebesar 129,5 juta ton CO2. Jadi ini merupakan bagian target kita dalam RUPTL,” ucap Yuliot.
Lebih lanjut Yuliot menyampaikan bahwa pemanfaatan EBT ini juga akan diimplementasikan dalam rangka mewujudkan keadilan sosial. Sebab, pemerintah tengah mendorong program energi berkeadilan bagi seluruh masyarakat Tanah Air.
Dia menerangkan, berdasarkan rasio elektrifikasi, saat ini Indonesia mencapai sekitar 98,51% per Maret 2025. Pemerintah mentargetkan pada akhir 2029 akan bisa dicapai rasio elektrifikasi 100%.
“Untuk rasio elektrifikasi ini ada 10.068 lokasi atau berada di 5.821 desa yang belum berlistrik. Ini kita akan sediakan listriknya. Jumlah rumah tangga yang belum memiliki akses listrik 1.287.000 rumah tangga,” ujar Yuliot.
Dia menjelaskan, dari masyarakat tersebut, pemerintah memetakan kategori kurang mampu ada 550.000 rumah tangga yang akan ddiorong untuk mendapatkan bantuan pasang baru listrik (BPBL). Selain itu, ada 420 lokasi yang listriknya belum menyala 24 jam.
Baca Juga
Prabowo Panggil Bos Pertamina, Bahas Distribusi BBM ke SPBU Swasta
“Ini merupakan target kita untuk bagaimana keadilan energi bagi masyarakat. Jadi untuk kebutuhan pembiayaan pada 2025, 2026, 2027 sampai 2029 kebutuhan pendiayaan lebih Rp 50 triliun. Jadi ini kita akan usahakan bagaimana keterlibatan dunia usaha dan sebagian disiapkan penganggarannya melalui APBN,” ungkap Yuliot.

