Potensi EBT Indonesia Capai 3.687 GW, Ternyata Baru Dimanfaatkan 12.817 MW
JAKARTA, Investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia mencapai 3.687 Gigawatt (GW). Sementara pemanfaatannya 12.817 Megawatt (MW) atau baru 0,34%.
Hal itu disampaikan Kepala Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM, Hariyanto dalam diskusi publik bertema 'Mengatasi Hambatan Pembiayaan Energi Terbarukan di Indonesia' yang digelar Yayasan Indonesia Cerah secara daring pada Rabu (13/12/2023). Dalam paparannya, Hariyanto menunjukkan energi tenaga surya memiliki potensi terbesar yaitu 3.294 GW.
Namun potensi itu baru dimanfaatkan 361 MW atau sekitar 0,01%. Tenaga surya ini tersebar di seluruh Indonesia, terutama di NTT, Kalimantan Barat, dan Riau yang memiliki radiasi lebih tinggi.
Lalu energi tenaga hidro memiliki potensi 95 GW namun baru dimanfaatkan 6.757 MW atau 7,11%. Potensi ini tersebar di seluruh Indonesia, terutama di Kalimantan Utara, Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Papua.
Baca Juga
ESDM: Distribusi B35 Sentuh 11,34 Juta KL hingga 12 Desember 2023
Selanjutnya potensi bioenergi berupa produk utama, limbah lahan perhutanan/perkebunan, dan limbah industri seperti biofuel, biomassa, dan biogas mencapai 57 GW. Tetapi pemanfaatannya baru 3.136 MW atau 5,5%.
Kemudian energi angin dengan kekuatan lebih dari 6 m/s terdapat di NTT, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, dan Papua dengan potensi 155 GW. Pemanfaatannya baru 154 MW atau 0,99% saja.
Ada pula energi panas bumi yang tersebar di sepanjang ring of fire Pulau Jawa, Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Yogyakarta mencapai 23 GW. Pemanfaatan baru 2.378 MW atau 10,3%.
Terakhir ada energi laut yang tersebar di seluruh Indonesia terutama Yogyakarta, NTT, NTB, dan Bali dengan potensi 63 GW namun belum dimanfaatkan sama sekali. Selain itu ada 30 MW pemanfaatan gasifikasi batu bara.
"Mitigasi kami, pemanfaatan EBT meningkatkan penurunan emisi karbon 95,3 juta ton CO2 pada 2022 menjadi 127 juta ton CO2 pada 2023. Kontribusi dari EBT capai 50%," tuturnya. (CR-14)
Baca Juga
Banyak Investor Energi Terbarukan Ingin Masuk Indonesia, tapi...

