Agar Dana Rp 200 Triliun di Bank Umum Terserap , HKI Sarankan Perbaiki Hambatan Birokrasi Investasi
Poin Penting
|
JAKARTA, INVESTORTRUS.id – Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menyambut baik kebijakan pemerintah menempatkan dana senilai Rp 200 triliun ke bank umum agar disalurkan dalam bentuk kredit ke sektor riil. Kebijakan ini dinilai dapat mendorong investasi, produksi, dan penciptaan lapangan kerja, khususnya di industri manufaktur dan sektor padat karya.
Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana menegaskan bahwa dana besar tersebut harus mampu untuk memperkuat daya saing industri manufaktur karena memiliki multiplier effect luas, mulai dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, hingga penguatan rantai pasok nasional.
Baca Juga
Namun, efektivitas kebijakan dinilai akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan dana benar-benar tersalurkan ke kebutuhan industri. “Stimulus ini harus dibarengi reformasi struktural seperti kepastian regulasi, efisiensi biaya, linkage dengan UMKM, hingga penguatan SDM,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/9/2025).
HKI juga mengingatkan adanya tantangan nyata, seperti melemahnya daya beli masyarakat, tingginya biaya logistik dan energi, serta hambatan birokrasi yang masih menahan investasi. Menurut HKI, percepatan perizinan, khususnya pada proyek strategis nasional (PSN) sangat penting agar dana Rp 200 triliun tidak hanya “parkir” di perbankan tanpa memberi dampak nyata.
Baca Juga
IHSG Dibuka Menguat 0,54%, Mayoritas Sektor Saham di Zona Hijau
Lebih jauh, HKI menilai dana stimulus ini dapat menjadi instrumen penting dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% sebagaimana arahan Presiden. Namun, hal itu hanya bisa terwujud jika disertai perbaikan sistemik dan kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan.
“Kami percaya dengan kebijakan tepat sasaran, dukungan infrastruktur, serta kepastian iklim usaha, stimulus ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur strategis di Asia,” tutup Ma’ruf.

