Neraca Perdagangan Industri Plastik Masih Defisit, RI Masih Bergantung pada Impor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Himpunan Polimer Indonesia (HPI) menegaskan bahwa industri plastik nasional masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi impor. Keterbatasan kapasitas produksi dalam negeri membuat Indonesia harus bergantung pada pasokan plastik dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Koordinator Pengembangan dan Penguatan Organisasi HPI, Tita Puspitasari, menjelaskan bahwa Indonesia masih mengimpor berbagai jenis plastik, antara lain Linear Low-Density Polyethylene (LLDPE), High Density Polyethylene (HDPE), Polypropylene (PP), Polyvinyl Chloride (PVC), hingga Polyethylene Terephthalate (PET). Menurutnya, impor tersebut masih cukup besar karena produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi permintaan nasional.
Berdasarkan data tahun 2023, kebutuhan plastik nasional tercatat mencapai 6,877 juta ton, sementara kapasitas produksi di dalam negeri baru sekitar 3,852 juta ton. Kekurangan pasokan inilah yang kemudian ditutupi melalui impor.
Baca Juga
Pameran Plastic & Rubber Indonesia Digelar, Dorong Proyeksi Ekspor Plastik hingga US$ 3,1 Miliar
Tita mengungkapkan, sebagian besar impor plastik Indonesia masih berasal dari China karena harga yang jauh lebih murah dibanding negara lain. Selain itu, impor juga dilakukan dari Thailand dan Uni Emirat Arab (UEA) yang memiliki keunggulan karena menghasilkan petroleum sebagai bahan baku utama plastik.
Meski demikian, Tita menekankan bahwa plastik tidak semestinya dipandang sebagai masalah, melainkan bisa menjadi solusi bila dikelola dengan baik. Menurutnya, penguatan industri plastik di dalam negeri harus sejalan dengan riset, inovasi, serta pembangunan infrastruktur pendukung.
Lebih jauh, ia menilai teknologi daur ulang plastik atau plastic recycling dapat menjadi peluang strategis untuk mendukung pembangunan circular economy yang berkelanjutan. Dengan cara ini, industri plastik nasional tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

