Ketua Kadin: Produktivitas BUMN Kunci Penguatan Investasi Danantara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie juga menyampaikan, Danantara berperan memusatkan kekuatan negara melalui BUMN untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Ia memaparkan, BUMN menghasilkan (dana investasi) sekitar US$ 7 miliar per tahun, dan targetnya dapat ditingkatkan menjadi US$ 10 miliar untuk diinvestasikan secara jangka panjang.
“Dalam satu tahun, setahu saya, BUMN itu bisa menghasilkan sekitar US$ 7 miliar (dana untuk diinvestasikan). Jadi inilah yang mesti dikembangkan menjadi US$ 10 miliar dan inilah yang diinvestasikan oleh Danantara. Jadi mau tidak mau BUMN kali ini di bawah Danantara benar-benar harus produktif, mau tidak mau mesti berkolaborasi. Baik kolaborasi internal maupun kolaborasi dengan dunia usaha,” terang dia di Gedung Lemhannas RI, Jakarta, Senin (11/8/2025).
Sementara itu, Chief Economist Danantara Reza Yamora Siregar, menilai skema sovereign wealth fund (SWF) Indonesia atau Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memiliki karakter berbeda dibandingkan negara lain.
Menurut dia, SWF umumnya dimiliki negara dengan kelebihan likuiditas, baik dari hasil komoditas seperti di Timur Tengah maupun dana pensiun besar seperti Central Provident Fund (CPF) di Singapura.
Baca Juga
Danantara Siapkan Jurus Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Whoosh
“Negara-negara itu punya excess saving, sementara kita tidak. Kita punya budget deficit dan current account deficit, jadi kita tidak punya surplus sebetulnya,” ujar Reza.
Ia turut menjelaskan, aset yang dimiliki Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di negara lain seperti Singapura, SWF menerima aliran kas tahunan untuk dikelola.
Dikatakan Reza, hal tersebut serupa dengan Indonesia Investment Authority (INA) yang memiliki dana abadi atau endowment sebesar US$ 5 miliar. Namun, lanjut dia, Danantara tidak memiliki endowment awal dan arus kasnya bergantung pada kinerja BUMN.
“Tugas kami di Danantara tidak hanya mencari return, tetapi juga menjadi agen pembangunan. Kami harus menciptakan lapangan kerja dan mendorong pemerataan pendapatan. Sehingga proyek yang dijalankan bersifat jangka panjang, 10 hingga 20 tahun,” jelas Reza.