Ketum Apindo Sebut Gap Sistem Pendidikan dan Kebutuhan Pasar Tenaga Kerja Masih Jadi PR
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani menyebut, gap antara sistem pendidikan di Indonesia dengan kebutuhan pasar tenaga kerja masih menjadi PR yang harus segera dibenahi. Apalagi industri semakin berkembang dengan transformasi digital.
Untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, Apindo berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membuat program 1.000 Pengusaha Mengajar.
“Ini sejalan dengan visi besar Apindo dalam mewujudkan iklim usaha yang kompetitif, berkelanjutan, dan kondusif untuk penciptaan lapangan kerja,” kata Shinta Kamdani dalam acara Kick Off Pengusaha Mengajar & HUT Ke-72 Apindo, Rabu (31/1/2024).
Baca Juga
Apindo dan 3 Kementerian Bikin Gerakan 1.000 Pengusaha Mengajar, Siapkan Generasi Emas 2045
Shinta menjelaskan, Apindo juga berperan aktif dalam penguatan hubungan industrial dan ketenagakerjaan dalam memastikan sumbangsih bagi arah dan tujuan pertumbuhan ekonomi nasional. Maka dari itu, ia menilai perlu menyiapkan tenaga kerja yang terampil dan tangguh berkaitan dengan kesiapan SDM sebagai modal penting pembangunan.
“Kualitas SDM kita masih punya banyak sekali PR yang perlu dibenahi. Dengan inisiatif Pengusaha Mengajar ini kami ingin lead by example dan walk the talk, tentu kami juga ingin terjun langsung terlibat langsung menyiapkan manusia Indonesia yang mumpuni,” papar dia.
Ke depannya, Shinta berharap Indonesia bisa memiliki masyarakat yang resilien dan memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar tenaga kerja serta memiliki cognitive skill yang fundamental dan tidak tergantikan oleh mesin di tengah disrupsi teknologi.
Baca Juga
Outlook Ekonomi RI 2024, Apindo: Semua Sektor Punya Peluang Bagus
Berdasarkan data dari LIPI, Shinta menyebut 4,6% tenaga kerja under educated dan 27,9% tenaga kerja over educated di Indonesia tahun 2018. Sementara tenaga kerja yang mengalami field of study mismatch sebanyak 68,4%.
“Jadi penyerapan tenaga kerja belum optimal dan ini harus kita perhatikan. Melalui program Pengusaha Mengajar kami mengajak pengusaha memberikan insight motivasi dan nilai keteladanan bagi para pelajar dan tenaga pelajar untuk siap menghadapi industri 4.0. Kami mengembangkan program yang diharapkan menciptakan keselarasan pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia usaha industri,” terang Shinta.
Shinta khawatir, dalam skala yang lebih luas ketidaksiapan tenaga kerja akan menghambat produktivitas dan ini berpotensi merugikan perusahaan dan sektor usaha secara umum. Pasalnya, jika dibiarkan hal itu akan berdampak bagi perekonomian akibat biaya pengembangan human capital yang tidak efektif dan efisien.
