Menperin Agus Targetkan Indonesia Masuk 10 Besar Produsen Crude Steel Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menargetkan Indonesia masuk 10 besar produsen crude steel (baja kasar) dunia dalam 3-4 tahun ke depan. Target ambisius ini didukung oleh lonjakan produksi nasional serta keberhasilan program hilirisasi industri logam.
“Kami menargetkan dalam tiga atau empat tahun ke depan, Indonesia bisa menempati posisi ke-11 atau bahkan ke-10 dunia,” ujar Agus dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (19/7/2025).
Baca Juga
Industri manufaktur tetap menjadi penopang utama ekspor Indonesia. Pada 2024, nilai ekspor sektor ini mencapai US$196,5 miliar, atau 74,25% dari total ekspor nasional, naik 5,11% dibandingkan 2023 yang mencatat US$186,9 miliar.
Pada kuartal I-2025, sektor manufaktur meraih surplus perdagangan sebesar US$10,4 miliar. Dari total ekspor nasional pada periode tersebut, 79,4% disumbang oleh sektor manufaktur.
Baca Juga
Industri Kimia dan Baja Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi, Perlu Proteksi dan Roadmap Jangka Panjang
Subsektor industri logam dasar, termasuk baja, menjadi tulang punggung penting dalam struktur industri nasional. Pada triwulan I 2025, subsektor ini menyumbang 1,10% terhadap PDB nasional, dan mencatat pertumbuhan tertinggi di antara sektor manufaktur lainnya, yakni 14,47% (yoy).
Berdasarkan data World Steel Association, produksi crude steel Indonesia pada 2024 mencapai 17 juta ton, meningkat hampir dua kali lipat dari 2019 yang hanya 8,5 juta ton (tumbuh 98,5%). Indonesia kini menempati posisi ke-14 dunia, dengan target naik ke posisi ke-10 pada tahun-tahun mendatang.
Daya Saing
Agar target ini tercapai, Menperin Agus menyebut pemerintah terus mengoptimalkan berbagai kebijakan strategis industri baja, antara lain, trade remedies (penanganan perdagangan tidak adil), Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), Insentif fiscal, pengutamaan produk dalam negeri, serta penerapan prinsip industri hijau.
Baca Juga
Diserang Impor Baja Murah China, Kemenperin Ungkap Cara Ini Lindungi Industri Dalam Negeri
“Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mendorong kapasitas dan utilisasi produksi secara berkelanjutan, serta memperkuat daya saing baja nasional di pasar domestik maupun ekspor,” jelas Menperin Agus.
Saat ini, kapasitas terpasang industri crude steel nasional berada di angka 21 juta ton, dan ditargetkan naik menjadi 27 juta ton pada 2029. Ekspansi ini menunjukkan optimisme pemerintah dalam menjadikan industri baja sebagai tulang punggung pembangunan nasional di masa depan.

