Gas Melon 1 Harga Dampaknya Beragam, Ini Kata Pakar UGM
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai, usulan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk menerapkan LPG 3 kg (gas melon) satu harga atau seragam akan menjadi blunder. Pasalnya, dampaknya akan beragam dan banyak pihak dirugikan dengan kebijakan tersebut.
Fahmy memahami niat Bahlil menerapkan kebijakan tersebut agar penyaluran LPG subsidi tepat sasaran, sehingga masyarakat tidak membeli gas melon dengan harga mahal. Namun, kebijakan tersebut tidak cocok untuk diterapkan pada situasi sekarang.
"Kebijakan satu harga LPG 3 kg juga tidak akan menjadikan subsidi tepat sasaran lantaran siapa pun, termasuk orang kaya, masih leluasa membeli LPG subsidi," kata Fahmy Radhi dalam keterangan yang diterima Investortrust, Kamis (3/7/2025).
Baca Juga
Usulkan LPG Subsidi Satu Harga, Bahlil: Agar Tidak Ada 'Gerakan' Tambahan
Dia memandang, penerapan kebijakan LPG satu harga justru akan semakin beban subsidi LPG 3 kg membengkak untuk membiayai selisih biaya transportasi antar-daerah dan wilayah.
Hal ini dikarenakan kebijakan tersebut berbeda dengan kebijakan BBM satu harga di seluruh Indonesia, yang seluruhnya didistribusikan oleh SPBU Pertamina sehingga harga BBM satu harga bisa dikontrol. Sedangkan, distribusi LPG 3 kg dilakukan oleh pangkalan dan agen tunggal, juga melibatkan ribuan pengecer di sekitar lokasi konsumen.
"Pengecer merupakan pengusaha akar rumput dan warung-warung kecil untuk mengais pendapatan. Dengan berjualan LPG 3 kg tentunya menaikkan harga jual untuk menutup biaya transportasi dan mendapat sedikit keuntungan," jelasnya.
Baca Juga
Bocoran RAPBN 2026, Subsidi Solar dan Minyak Tanah Dipangkas tetapi LPG Naik
Menurutnya, disparitas harga di pangkalan dan agen tunggal dengan harga pengecer dinilai masih menjadi hal wajar. Hal ini pun dapat diterima karena konsumen tidak mengeluarkan biaya transportasi dengan membeli LPG 3 kg di pengecer.
"Harga di antara pengecer akan membentuk harga keseimbangan, sehingga mustahil bagi pengecer mematok harga LPG 3 kg hingga mencapai Rp 50.000 per tabung," sebut Fahmy Radhi.
Untuk itu, kata Fahmy, berhubung kebijakan satu harga LPG 3 kg tidak dapat mencapai tujuan agar distrubisi lebih tepat sasaran dan mengurangi disparitas harga bagi konsumen miskin, Bahlil sebaiknya mengkaji ulang rencana kebijakan itu.

