Tarif Listrik Malaysia Naik, Indonesia Bisa Tikung Investasi Data Center?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kenaikan tarif listrik industri di Malaysia sejak 1 Juli 2025 membuat pelaku industri data center di negara itu kelimpungan. Biaya operasional yang membengkak membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi destinasi baru investasi infrastruktur digital skala besar.
Dikutip dari Reuters, Selasa (1/7/2025), tarif baru diperkirakan meningkatkan biaya listrik hingga 10–14% untuk konsumen besar seperti operator data center di Negeri Jiran. Ini belum termasuk biaya tambahan bahan bakar yang ditetapkan bulanan oleh otoritas setempat.
Dalam sistem tarif bertingkat, sebagian besar pusat data besar diperkirakan masuk kategori ultra-high voltage atau golongan dengan beban tarif tertinggi. Direktur Sprint DC Consulting, Gary Goh, memperkirakan tambahan biaya mencapai US$ 15–20 juta per tahun untuk fasilitas berkapasitas 100 megawatt.
Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian dan membuat sejumlah investor mengadopsi pendekatan “wait-and-see.” “Banyak yang tidak siap dengan skala kenaikan ini,” kata Goh.
Padahal, Malaysia sempat menjadi magnet investasi global karena tarif listrik yang rendah dan pasokan listrik yang stabil. Microsoft, Google, hingga Equinix telah menanamkan miliaran dolar untuk membangun data center di Johor dan Cyberjaya.
Namun, situasi terkini bisa mengalihkan minat investor ke negara tetangga, terutama Indonesia. “Data center bisa saja mengubah arah investasi meskipun lahan dan bangunan sudah disiapkan,” kata Ketua Data Centre Association of Malaysia, Mahadhir Aziz.
Kini, Indonesia muncul sebagai alternatif yang semakin menarik. Selain tarif listrik industri yang masih relatif stabil, pemerintah Indonesia lewat Kemenkomdigi juga tengah mempercepat pembangunan ekosistem digital termasuk jaringan fiber optik dan kawasan pusat data terpadu di Batam, Bekasi, dan Cikarang.
Baca Juga
Perusahaan Dubai EDGNEX Gelontorkan Investasi Rp 37 Triliun, Bangun Data Center Jumbo di Cikarang
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut Indonesia bisa saja melirik peluang ini. Namun ia menekankan akan pentingnya pasokan listrik yang stabil, terutama di wilayah rawan bencana untuk menarik investor.
"Ada faktor tentang kesiapan mengenai energi yang juga harus ditingkatkan jika ingin mengembangkan data center. Indonesia masih tidak stabil untuk supply listrik. Bahkan juga rawan terhadap bencana," ungkap Huda kepada investortrust.id beberapa waktu lalu.
Untuk meningkatkan daya tarik investasi pusat data di kawasan ASEAN, ia juga menekankan pentingnya langkah konkret dari pemerintah. Perbaikan infrastruktur, kebijakan insentif investasi, serta peningkatan kualitas SDM menjadi hal yang perlu segera dilakukan.
"Maka demikian, memang pemerintah harus mengantisipasi permasalahan tersebut jika ingin menaikkan minat investasi perusahaan teknologi di Indonesia," sambung Huda.
Potensi besar Indonesia
Di sisi lain, potensi Indonesia untuk investasi data center hingga kebutuhan akan industri kecerdasan buatan (AI) juga tidak bisa dianggap remeh. Bahkan Indonesia disebut memiliki 'hidden gem' sumber daya listrik yang murah.
“Indonesia punya sumber daya luar biasa, yaitu listrik yang murah. Kalau kita kelola dengan benar, batubara, geothermal, hydropower, maka hilirisasi paling bernilai menurut saya adalah menciptakan listrik yang murah dan kompetitif,” ungkap Direktur Utama GoTo, Partrick Walujo usai peluncuran Sahabat-AI bulan lalu.
Baca Juga
Data Center DCI Indonesia (DCII) di Cibitung Diresmikan, Otto Toto Ungkap Sejumlah Fitur Canggih Ini
Sementara itu, beberapa raksasa teknologi global telah menandai Indonesia sebagai prioritas investasi. Google Cloud, AWS, dan Microsoft mengincar Indonesia sebagai pusat pertumbuhan baru di Asia Tenggara, terlebih dengan bonus demografi dan permintaan digital yang terus meningkat.
Pemerintah juga mendorong pelatihan talenta digital dan penyediaan energi bersih untuk mendukung kebutuhan daya pusat data berskala besar. Selain itu, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang lebih luas sebagai nilai tambah dalam jangka panjang.
Kondisi Malaysia yang mulai memberatkan investor bisa menjadi momentum strategis bagi Indonesia. Jika dikelola dengan baik, maka lonjakan biaya di Negeri Jiran justru membuka jalan Indonesia menjadi pemain kunci dalam peta industri data center di ASEAN.

