Rusia Siap Buat Aplikasi Pesaing WhatsApp dan Telegram
MOSKOW, investortrust.id - Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani undang-undang yang memungkinkan pengembangan aplikasi pesan instan buatan negara yang terintegrasi dengan layanan pemerintahan. Langkah ini merupakan upaya besar Rusia untuk mengurangi ketergantungan pada platform asing, seperti WhatsApp dan Telegram.
Pemerintah Rusia menyebut, proyek ini sebagai bagian strategi kedaulatan digital yang bertujuan memperkuat kemandirian teknologi nasional dengan mendorong layanan buatan dalam negeri. Dorongan ini semakin menguat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 yang memicu penarikan sejumlah perusahaan teknologi Barat dari pasar Rusia.
Baca Juga
Telegram vs WhatsApp! Perang AI Makin Panas dengan Kehadiran Grok ala Elon Musk
Menurut para legislator Rusia, aplikasi ini akan memiliki fitur-fitur yang tidak tersedia di Telegram maupun WhatsApp, seperti akses langsung ke layanan pemerintah dan kemungkinan sistem identifikasi resmi. Meski begitu, para pengkritik menyebut proyek ini sebagai ancaman terhadap privasi dan kebebasan sipil.
"Negara akan memiliki kendali penuh atas aplikasi ini, yang berpotensi disalahgunakan untuk memantau komunikasi warga," kata Direktur Internet Protection Society, Mikhail Klimarev, dikutip dari Reuters, Rabu (25/6/2025).
Lembaga HAM digital di Rusia itu juga memperkirakan bahwa pemerintah Negeri Beruang Merah dapat memperlambat akses ke WhatsApp dan Telegram guna mendorong masyarakat beralih ke aplikasi baru milik negara.
Sejauh ini, belum ada informasi teknis mendetail mengenai pengembang, waktu peluncuran, atau nama resmi aplikasi tersebut. Namun, pemerintah telah mengindikasikan bahwa aplikasi ini akan digunakan secara luas oleh warga untuk mengakses layanan administratif, mulai pajak hingga kesehatan.
Langkah ini sejalan dengan tren global ketika negara-negara mulai menciptakan alternatif teknologi sendiri untuk mengurangi dominasi platform global, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran atas keamanan data dan kedaulatan informasi.
Baca Juga
Meta Sediakan Stablecoin untuk Pembayaran di Instagram dan WhatsApp?
Rusia sebelumnya juga telah mendorong penggunaan mesin pencari lokal Yandex dan platform media sosial VKontakte sebagai pengganti Google dan Facebook.
Namun, pengamat menyatakan bahwa adopsi teknologi baru ini akan sangat bergantung pada keandalan teknis dan kepercayaan publik terhadap perlindungan data pribadi di bawah kendali negara.
Langkah Rusia ini diperkirakan akan berdampak terhadap lanskap kompetisi digital domestik, dan menjadi perhatian investor global yang memantau dinamika regulasi teknologi di negara-negara dengan kontrol informasi kuat.

