Para Produsen Mamin Cemas, Perang Iran-Israel Kerek Biaya Produksi
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S Lukman mengungkapkan kecemasannya terhadap dampak perang antara Iran dan Israel. Perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) itu bisa mengerek naik biaya produksi makanan dan minuman (mamin).
Adhi Lukman mengungkapkan, gejolak geopolitik di Timur Tengah yang dipicu perang Iran-Israel sangat memengaruhi industri manufaktur di Tanah Air. Perangkedua negara akan menganggu pengapalan atau pengangkutan barang. Apalagi jika Iran menutup Selat Hormuz, urat nadi bagi 20-25% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.
Baca Juga
"Kami sangat khawatir. Berdasarkan pengalaman buruk sebelumnya, itu akan meningkatkan biaya logistik dan menambah waktu pengapalan," ucap Adhi kepada Investortrust.id, Selasa (224/6/2025).
Menurut Adhi, dampak selanjutkan yang akan dirasakan industri manufaktur di Tanah Air adalah kenaikan harga energi dan minyak bumi. Kenaikan harga energi bakal mendorong harga bahan baku dan pendukung yang dibutuhkan sektor mamin di dalam negeri.
"Bukan hanya material pokok, tapi juga food ingredients. Pengalaman yang lalu, perang berdampak pada harga food ingredients juga. Belum lagi dampak lainnya, seperti penguatan dolar AS. Itu akan memukul industri mamin karena kan bahan bakur, raw material-nya, masih banyak yang impor," papar dia.
Baca Juga
Industri Mamin "Teriak", Pemerintah Buka Keran Impor Garam Lagi hingga 2027
Akibat kekhawatiran tersebut, kata Adhi, para pengusaha tidak memiliki rencana atau proyeksi jangka panjang di tengah gejolak geopolitik saat ini.
"Menurut saya sih kita harus hati-hati karena dampaknya cukup besar," imbuh pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Pengembangan Industri Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia itu.

