Bagikan

Harga Minyak Tembus US$ 100, Produsen Timur Tengah Pangkas Produksi Imbas Perang Iran

Poin Penting

Harga minyak dunia melonjak di atas $100 per barel akibat perang Iran.
Produksi minyak Irak turun 70%, sementara Kuwait dan UEA memangkas output.
Penutupan Selat Hormuz menghambat ekspor sekitar 20% minyak dunia.
AS memperkirakan gangguan pasar energi hanya berlangsung beberapa minggu.

NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melonjak di atas $100 per barel setelah produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi karena Selat Hormuz masih tertutup akibat perang Iran.

Baca Juga

Kuwait Pangkas Produksi Minyak, Krisis Energi Global Memburuk

Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate melonjak 18,98% atau $17,25 menjadi $108,15 per barel pada Minggu pukul 18:12 waktu New York.

Sementara itu, harga minyak mentah patokan global Brent naik 16,19% atau $15,01 menjadi $107,70 per barel.

Minyak mentah AS naik sekitar 35% dalam sepekan, kenaikan terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka sejak 1983.

Kuwait, produsen minyak terbesar kelima di OPEC, mengumumkan pemangkasan produksi sebagai langkah pencegahan akibat ancaman Iran terhadap kapal di Selat Hormuz. Perusahaan negara Kuwait Petroleum Corporation tidak merinci besaran pemangkasan tersebut.

Baca Juga

Minyak Tembus US$ 90 per Barel, AS Luncurkan Program Reasuransi US$ 20 Miliar untuk Tanker Minyak

Produksi di Irak, produsen terbesar kedua OPEC, juga merosot tajam. Produksi dari tiga ladang minyak utama di selatan negara itu turun 70% menjadi 1,3 juta barel per hari, dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari sebelum perang.

United Arab Emirates, produsen terbesar ketiga di OPEC, mengatakan sedang mengelola tingkat produksi lepas pantai secara hati-hati untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan.

Perusahaan minyak negara Abu Dhabi National Oil Company mengatakan operasi daratnya tetap berjalan normal.

Negara-negara Arab Teluk memangkas produksi karena kehabisan kapasitas penyimpanan, sementara minyak menumpuk tanpa bisa diekspor akibat penutupan selat tersebut.

Kapal tanker enggan melewati jalur sempit itu karena khawatir diserang Iran.

Sekitar 20% konsumsi minyak dunia diekspor melalui Selat Hormuz.

Perang menunjukkan hanya sedikit tanda mereda meskipun Trump mengeklaim konflik tersebut “sudah dimenangkan.”

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal di selat akan kembali normal setelah AS menghancurkan kemampuan Iran untuk mengancam tanker.

“Kita tidak akan menunggu lama sebelum melihat lalu lintas kapal kembali lebih normal di Selat Hormuz,” kata Wright kepada CNN. “Kita masih jauh dari lalu lintas normal sekarang. Itu akan membutuhkan waktu. Namun skenario terburuk hanya beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” ujarnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024