5 Jurus Jitu Kementerian PU Genjot Produktivitas Pertanian Demi Swasembada Pangan
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan komitmennya untuk meningkatkan produktivitas pertanian dengan target pencapaian swasembada pangan pada 2029 melalui lima strategi utama.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Lilik Retno Cahyadiningsih menjelaskan, strategi pertama adalah meningkatkan presentase luas baku sawah fungsional yang beririgasi hingga mencapai 62,3%.
''Kedua, rasio luas layanan irigasi yang ketersediaan airnya dijamin waduk ditargetkan mencapai 16,57%,'' kata dia dalam webinar "Hari Air Sedunia ke-33" melalui virtual meeting, Senin (16/6/2025).
Baca Juga
Sisi Cerah Ekonomi Indonesia! Pertanian Melesat, Pariwisata Menggeliat
Ketiga, efisiensi pemanfaatan air irigasi harus mencapai US$ 0,43 per meter kubik. Keempat, luas layanan irigasi yang dibangun untuk pertanian multi-komoditas diperkirakan mencapai 180.000 hektare.
'Kelima, luas layanan irigasi yang direhabilitasi dan ditingkatkan ditargetkan mencapai 1,2 juta hektare,'' terang Lilik.
Lilik menyampaikan, pencapaian target fisik tersebut memerlukan sinergi antar-pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan daerah sebagai penyusun regulasi dan pengelola sumber daya air, akademisi, dan peneliti yang menghadirkan inovasi teknologi konservasi. "Selain itu, masyarakat, terutama petani dan komunitas lokal, sebagai pelaku utama pelestarian sumber air di lapangan," kata dia.
Sebelumnya, Menteri PU Dody Hanggodo menjelaskan, setidaknya ada beberapa titik yang akan menjadi fokus utama yang tersebar di 12 provinsi. Dia berkomitmen mendukung program-program pertanian, utamanya dari sisi ketersediaan air, sebagai upaya mencapai swasembada pangan.
“Insyaallah, dalam minggu depan kami akan mulai bergerak ke lapangan sesuai koordinasi dengan Menteri Pertanian. Ada 12 provinsi yang akan difokuskan untuk mencapai target ini,” ujar Menteri Dody beberapa waktu lalu.
Setidaknya ada dua strategi utama yang disiapkannya, antara lain ekstensifikasi dan intensifikasi. Strategi intensifikasi dengan mengembangkan 1 juta hektare (ha) lahan mencakup peningkatan luas tanam di daerah irigasi yang telah diverifikasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Balai Wilayah Sungai (BWS).
Baca Juga
Mentan Sebut Investasi Pertanian Rp 371 Triliun Bisa Hasilkan Untung Rp 9.000 Triliun
Tujuannya guna meningkatkan luas tanam melalui optimalisasi indeks pertanaman (IP) seluas 483.563 ha, bendungan (irigasi premium) seluas 231.710 ha (peningkatan keandalan air irigasi untuk meningkatkan IP) di area strategis, seperti Bendungan Karian di Banten, Bendungan Temef di NTT, Bendungan Karalloe di Sulawesi Selatan, dan Bendungan Leuwikeris di Jawa Barat.
Adapun, Irigasi yang direhabilitasi (2024) 251.853 ha, di antaranya ada daerah irigasi kewenangan pusat dengan 187.973 ha terdapat penambahan luas tanam seluas 74.778 ha (40%), daerah irigasi kewenangan kabupaten/kota melalui dana alokasi khusus (DAK) seluas 107.437 ha, terdapat penambahan luas tanam seluas 42.975 ha (40%), daerah irigasi desa/masyarakat melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) sebanyak 447.000 ha, terdapat penambahan luas tanam seluas 134.100 ha (30%).
Sementara itu, strategi ekstensifikasi bertujuan mencetak sawah baru seluas 1,3 juta ha, yang terdiri dari 99.760 ha lahan di daerah irigasi yang sudah selesai dibangun dan pembangunan jaringan irigasi baru (selesai 2024), rehabilitasi jaringan irigasi (selesai 2024), pencetakan sawah 5.956 ha (perlu dibangun jaringan irigasi sehingga irigasi potensial menjadi fungsional).

