KKP Genjot Kapasitas Perikanan Tangkap melalui Program Kalamo
JAKARTA, investortrust.id – Sekretaris Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Trian Yunanda menyatakan, Kampung Nelayan Modern (Kalamo) di Desa Samber Binyeri merupakan salah satu dari 11 titik Kalamo yang akan dikembangkan.
“Jadi untuk saat ini yang beroperasi masih di (Desa) Samber Binyeri itu, untuk 10 lokasi lainnya masih under construction, saya harap dengan adanya Kalamo ini dapat membantu PDB nasional bahkan satu Kalamo saja bisa capai Rp 14,9 miliar,” kata Trian di Media Centre KKP, Jakarta, Rabu (6/12/2023).
Terkait kapasitas perikanan tangkap nasional, di tahun 2023, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP) KKP menargetkan produksi perikanan tangkap sebesar 8,73 juta ton. Sedangkan untuk tahun 2022, produksi perikanan tangkap tercatat mencapai 7,99 juta ton.
Dia juga menyebutkan, KKP sudah memberikan pelatihan dan pembinaan kepada masyarakat setempat dalam hal penangkapan sampai dengan pengolahannya.
Baca Juga
KKP Sebut Kontribusi Perikanan Tangkap Masih Kecil terhadap PDB
“Kami sudah memberikan sarana dan prasarana seperti cool box sebanyak 120 unit, terus cold storage dengan kapasitas 10 Ton sampai dengan bimbingan teknis sertifikasi kecakapan nelayan,” ungkap Trian kepada investortrust.id
Sementara itu, kontribusi perikanan tangkap dalam penyediaan pangan nasional harus diperhatikan beberapa standardisasinya. Trian menegaskan ada dua hal penting yang harus diperhatikan yaitu hasil penangkapan ikan yang legal secara regulasi dan hasil produk yang tersertifikasi.
“Ada 2 hal yang perlu diperhatikan, pertama adalah market (nasional maupun internasional) harus memastikan produk adalah hasil penangkapan ikan yang legal, yang dilaporkan, dan yang teregulasi,” katanya.
Kemudian, dari sisi kualitas dari penangkapan ikan yang baik, hasil produknya juga tersertifikasi. Jadi, proses social engineering-nya ditekankan di situ dan ini masih berjalan terus,” jelas Trian.
Baca Juga
Tampil di BISFE 2023 Busan, Produk Perikanan Indonesia Raup Potensi Transaksi USD 2,57 Juta
Sementara itu, Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, A. Rita Tisiana menyatakan jumlah pendapatan masyarakat di kampung nelayan saat ini sebesar Rp 1,42 miliar dalam setahun, harapannya untuk tahun pertama itu di Kampung Nelayan Modern (Kalamo) Desa Samber Binyeri, Kabupaten Biak Numfor adalah Rp 14,89 miliar per tahun.
“Kami mencoba menghitung secara kasar untuk 3 tahun ke depan di perahu motor tempel dua mesin kondisi saat ini pendapatan masih Rp 5 juta per bulan per kapal, sedangkan dengan program Kalamo pendapatan masyarakat capai Rp 17 juta per bulan per kapal. Yang mana idealnya secara keseluruhan untuk Kalamo ini pendapatan sebesar Rp 14,89 miliar,” ungkap Tisiana di Media Centre KKP, Jakarta, Rabu (6/12/2023).
Dia juga menyebutkan, alokasi anggaran sebesar Rp 22,1 miliar itu digunakan untuk pembangunan fasilitas dari hulu ke hilir sampai dengan pendampingan dan pelatihan. “Alokasi tersebut digunakan untuk pembangunan fasilitas pokok produksi, pengusaha perikanan seperti cold storage berkapasitas 10 ton, lalu ada bantuan sarana penangkapan ikan dan seterusnya,” kata Tisiana.
Di Pulau Pasaran di Lampung, Tisiana menjelaskan kondisi di desa Samber Binyeri sangat berbeda yaitu dari segi pengolahan. Dia menyatakan di Pulau Pasaran Lampung, profesi mayoritas masyarakat adalah pengolah bukan nelayan.
“Jadi, di satu pulau itu 90% masyarakatnya adalah pengolah tangkapan laut, khususnya ikan teri, dan tercatat perputaran uang disana sekitar Rp45 miliar untuk ikan teri saja,” jelas Tisiana.
Ia juga menjelaskan kekurangan dari Pulau Pasaran Lampung terkait packaging, yang mana tidak ada tempat penyimpanan seperti gudang. “Jadi, mereka menyimpan produknya di luar menggunakan dus-dus, dan lokasinya seperti saung-saung begitu. Nah, inilah yang nantinya akan difasilitasi oleh Dirjen teknis,” tandas Tisiana. (CR-3)

