Pacu Panas Bumi 1,7 GW, PGE Bocorkan Cara Cepat Monetisasi Geotermal
JAKARTA, investortrust.id - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE bagian PT Pertamina New Renewable Energy (NRE), subholding energi baru terbarukan PT Pertamina (Persero), menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) atau geotermal pada 2033 sebesar 1,7 gigawatt (GW).
Manager Investor Relations PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE Ronald Andre Hutagalung menyampaikan, saat ini konsesi area yang dikelola sendiri oleh PGE ada 14 dengan kapasitas terpasang 673 megawatt (MW). Namun, yang dikerjasamakan dengan partner melalui skema joint operating contract (JOC) lebih 1.200 MW.
“Jadi kami mengelola termasuk JOC di portfolio kami lebih dari 1,8 gigawatt,” kata Ronald Andre dalam acara "Pertamina Geothermal Energy-Investortrust Youth Seminar Financial Literacy" di Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi (FTKE) Universitas Trisakti, Jakarta, Kamis (15/5/2025).
Baca Juga
Hadiri PGEO - Investortrust Youth Seminar, OJK Beri Tips 2L Sebelum Berinvestasi
Dalam rencana pengembangan ke depan, Ronald Andre menyebut, PGE memiliki quick win project di 13 area yang berjumlah lebih 395 MW. Dengan proyek ini, maka waktu memonetisasi menjadi lebih cepat, yakni 18-24 bulan.
Besarnya angka kapasitas tersebut didapat setelah PGE melakukan identifikasi sehingga ditemukan beberapa lokasi potensial di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Sementara dari potensi cadangan yang baru terutilisasi dari proven-nya sebesar 1,1 GW, sebanyak 673 MW sudah dimonetisasi.
“Kemudian masih ada 563 MW yang masuk dalam kategori probable dengan 1,6 GW masih masuk dalam kategori possible. Jadi by 2033 kita targetkan total install capacity dari PGE yang hari ini 673 MW itu akan naik menjadi 1,7 GW,” ungkap dia.
Baca Juga
PGEO Ungkap Target Kenaikan Volume Produksi Ini di 2025, Sahamnya Langsung Ngacir
Pemerintah manargetkan pengembangan kapasitas PLTP mencapai 10,5 GW pada 2035. Dari total target itu, PGE diharapkan bisa berkontribusi 10% atau sekitar 1,8 GW.
“Bisnis strategi kami ke depan akan lebih mengembangkan PLTP yang small scale dengan menggunakan binary technology. Yang sebelumnya konvensional itu kira-kira untuk ekonomisnya 50 MW, tetapi dengan ada binary technology dengan skala yang lebih kecil 10 MW pun sudah bisa kami kembangkan,” jelas Ronald.

