Bank Mandiri Ingatkan Pergeseran Perilaku Konsumen
JAKARTA, investortrust.id – Tim ekonom Bank Mandiri mencermati tren pengeluaran masyarakat yang lebih berhati-hati dan pergeseran perilaku konsumen. Hal ini akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga harus diantisipasi pemerintah.
Hal itu terungkap dari hasil riset Mandiri Group yang dipublikasikan dalam EconMark edisi April 2025, Kamis (17/4/2025).
Menurut Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, konsumsi rumah tangga, yang merupakan penggerak utama pertumbuhan Indonesia, turun dari rata-rata 54,3% terhadap PDB sebelum pandemi menjadi 52,7% setelah pandemi. „Konsumsi ini masih 6,7% di bawah potensinya, mencerminkan adanya kesenjangan struktural yang terus berlanjut,“ kata dia.
Andry juga melihat tren konsumsi selama Ramadan 2025 menunjukkan adanya pergeseran perilaku, yakni penundaan belanja, peningkatan ketergantungan pada Tunjangan Hari Raya (THR), serta beralih ke produk-produk yang lebih terjangkau. Meskipun belanja meningkat pada paruh kedua Ramadan, pertumbuhan keseluruhan hanya mencapai 11,2%, sedikit lebih rendah dibandingkan 12,1% pada tahun lalu.
Saving gap yang terjadi pada periode Ramadan 2025 lebih lebar dibanding 2024. Hal itu juga kemungkinan mengindikasikan bahwa secara umum nilai THR yang diterima tahun ini lebih rendah dari tahun lalu.
Selain itu, kata Andry, mobilitas selama periode libur juga mengalami perubahan. Masyarakat lebih memilih destinasi jarak dekat dan transportasi umum, yang memberikan manfaat bagi kota-kota seperti Bogor dan Bandung, sementara destinasi jarak jauh seperti Bali mengalami pertumbuhan yang lebih lemah. „Pola ini mencerminkan konsumen yang lebih bijak dan sadar nilai,“ tuturnya.
Yang cukup mengkhawatirkan adalah aktivitas ritel yang masih berada di bawah tekanan. Penjualan cenderung stagnan, persaingan semakin ketat, dan para pedagang kesulitan beradaptasi dengan perubahan permintaan. Pada saat yang sama, kata Andry Asmoro, risiko potensial dari tarif Amerika Serikat yang membayangi dapat menekan ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan pada akhirnya konsumsi—terutama di segmen menengah bawah.
Meski demikian, di tengah tantangan ini, peluang tetap ada. Menurut Andry Asmoro, perusahaan dapat tetap kompetitif dengan menyesuaikan ukuran dan harga produk serta berfokus pada sektor-sektor esensial. „Dukungan kebijakan untuk mempertahankan konsumsi rumah tangga dan ketahanan tenaga kerja akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan dalam perekonomian yang semakin berhati-hati dan berorientasi pada nilai,“ tegasnya.

