Blankenheim, Sepatu Kulit Asal Bandung yang Mendunia dan Digemari Para Menteri
JAKARTA, investortrust.id – Dari sebuah jalan kecil di Belanda, lahirlah sebuah merek sepatu kulit asal Bandung yang kini mulai dikenal hingga mancanegara dan diminati para menteri, Blankenheim. Blankenheim tak sekadar produk fesyen, tapi wujud nyata dari mimpi sang pendirinya, Beny Ramdani Sofara yang jatuh cinta pada craftsmanship kulit sejak kuliah S2 di Negeri Kincir Angin. Craftmanship adalah orang yang bekerja untuk membuat kerajinan tangan.
Tahun 2010 menjadi titik awal perjalanan Beny, saat itu ia menemukan sepatu kulit bermerek asing di sebuah toko di Alun-alun Kota Deventer, Belanda. Yang mengejutkan, sepatu tersebut ternyata buatan Indonesia.
“Waktu itu saya ketemu sepatu yang saya taksir. Pas saya lihat, lho ternyata buatan Indonesia, tapi pakai merek luar. Harganya kalau dirupiahkan sekitar Rp 4 juta,” ujarnya kepada Investortrust melalui sambungan telepon, belum lama ini.
Momen itu membuka matanya, produk kulit Indonesia ternyata punya potensi besar di pasar global. Sepulangnya ke Tanah Air, Beny menghabiskan waktu satu tahun untuk riset, hingga di 2013, Blankenheim resmi lahir. Blankenheim terinspirasi dari nama jalan tempatnya tinggal di Belanda.
Berbekal mimpi besar dan perhatian pada detail, pria kelahiran Bandung, 22 Juli 1981 tersebut membangun Blankenheim dengan pendekatan berbeda. Ia memilih jalur handmade craftsmanship, menggabungkan estetika Eropa dengan nilai-nilai lokal Indonesia.
“Mimpi besar Blankenheim adalah menjadi brand global dari Indonesia yang dikenal karena craftsmanship yang bisa setara dengan brand luar. Targetnya, visi ini bisa mulai terwujud secara signifikan pada tahun 2030,” ujarnya.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Baca Juga
Berkat Dukungan BRI, Sepatu Lokal Malang Menembus Pasar Dunia
Produk andalannya, sepatu Gen-3, menjadi primadona berkat desain minimalis, slim sporty, dan bobotnya yang ringan nyaman dipakai seharian. Tak hanya menonjol secara visual, sepatu Gen-3 juga menaruh perhatian pada keberlanjutan. Blankenheim menyediakan layanan after-sales repair untuk memperpanjang usia pakai sepatu, sebuah nilai tambah yang jarang dimiliki brand lokal lainnya.
Kini, Blankenheim sudah merambah pasar internasional seperti Afrika Selatan, Spanyol, Belanda, Jerman, dan Chile. Tahun ini, mereka membidik ekspansi ke Australia dan Amerika Serikat lewat pameran seperti Trade Expo Indonesia (TEI) dan kampanye digital lintas negara. Kontribusi ekspor saat ini baru sekitar 5% dari total omzet, tapi Beny menargetkan bisa naik menjadi 25% dalam dua tahun ke depan.
Tahun 2024, Blankenheim mencatat omzet sekitar Rp 1,2 miliar. Tahun ini, Blankenheim menargetkan pertumbuhan omzet 50% dibanding tahun sebelumnya.
“Untuk kejar target ada beberapa strategi, seperti penguatan penjualan online melalui marketplace dan website, kolaborasi atau kerjasama dengan Sogo, Seibu dan Alun-alun Indonesia dan kampanye branding yang lebih agresif. Juga ekspansi ke pasar internasional,” kata alumnus Saxion University Deventer, Belanda jurusan manajemen tersebut.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Blankenheim saat ini bisa ditemukan di Sarinah Thamrin Jakarta dan official store, Jl. Aria Jipang No.1 Bandung.
Beny memproduksi sepatu kulit yang bisa digunakan formal maupun casual dan cocok disetiap suasana. Sepatunya terbuat dari kulit dari sapi maupun domba 100%, yang diambil dari Surabaya, Garut, dan Magelang. Karena terbuat dari handmade oleh enam pengrajin yang berasal dari Bandung, jadi ia hanya bisa memproduksi 250 sampai 500 sepatu dalam satu bulan.
Harga sepatu Blankenheim ini, dibandrol dari mulai Rp 725 ribu sampai Rp 3 juta. Sedangkan untuk produk lainnya, harga yang termahal adalah tas travel bag bisa Rp 3 sampai Rp 4 juta. Lalu ada juga jaket kulit hingga seharga Rp 3 juta.
Bimbingan BRI
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Perjalanan Blankenheim tak bisa dilepaskan dari dukungan banyak pihak, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Sebagai UMKM binaan BRI, Blankenheim awalnya pernah mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 100 juta untuk memperluas kapasitas produksi.
“BRI ini paling gencar membimbing kami. Mulai dari pelatihan manajemen, pengemasan produk, hingga membuka akses pasar,” ungkap Beny.
Program pembinaan lainnya yang dirasakan manfaatnya adalah pelatihan digitalisasi. "Pelatihan digital yang kita ikuti sangat membantu dalam meningkatkan pemasaran online. Selain itu, akses pasar yang langsung, seperti bertemu calon pembeli, sangat berpengaruh bagi bisnis," pungkasnya.
Selain pelatihan digital, BRI juga aktif mempertemukan Blankenheim dengan calon pembeli melalui program business matching dan mengikutsertakan dalam berbagai pameran nasional maupun internasional. "Di acara pameran, BRI bukan hanya menyediakan tempat display, tapi juga mendatangkan calon pembeli, baik dari dalam maupun luar negeri," tambah ia.
Blankenheim bahkan berhasil menarik hati para pejabat dan public figure Indonesia. Dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Menteri Perdagangan Budi Santoso, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio dan Sandiaga Uno, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, hingga Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, semua pernah mengenakan sepatu Blankenheim.
Baca Juga
Jokowi Lepas Ekspor Perdana 16.000 Pasang Sepatu ke Amerika Serikat
Desain Stylish
Menteri BUMN Erick Thohir memberikan apresiasi terhadap Blankenheim. Merek yang dikenal dengan desain minimalis dan craftsmanship berkualitas tinggi ini disebut Erick sebagai contoh produk UMKM yang layak bersaing di pasar internasional.
“Ini satu di antara brand sepatu lokal pilihan saya untuk ke kantor. Blankenheim buatan asal Bandung. Saya suka desainnya yang simpel tapi tetap stylish. Cocok sekalibuat melengkapi penampilan smart casual atau event. Bahan kulitnya halus. Lokal punya, keren gayanya,” tulisnya dalam Instagram resminya.
Sementara, Faisal (25) mengaku menyukai Blankenheim karena model dan warna sepatu kulitnya tidak terlalu formal dan nyaman dipakai. “Sepatu casual ini cocok buat anak muda, bisa dipakai formal buat kerja ataupun santai,” ujarnya di BRILian Fest Ramadhan 1446 H yang digelar BRI belum lama ini. Blankenheim merupakan salah satu UMKM yang membuka booth di BRILian Fest Ramadhan.
Foto: Investortrust/Lona Olavia
Menurutnya, sepatu kulit buatan UMKM dalam negeri tidak kalah bagus kualitas dan modelnya untuk bersaing dengan produk luar negeri.
Kementerian Perindustrian mencatat, kinerja ekspor alas kaki dan pakaian kian perkasa sepanjang tahun 2024. Total ekspor alas kaki dan pakaian Indonesia pada 2024 tembus US$ 11,2 miliar, naik 9,8% dibanding tahun sebelumnya.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, industri kulit dan alas kaki sudah mampu berdaya saing global dengan menghasilkan produk yang berkualitas. “Sektor ini tumbuh dengan dorongan permintaan domestik dan luar negeri yang cukup tinggi sehingga memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional,” katanya.
Berdasarkan data World Footwear Yearbook 2023, Indonesia tercatat ke dalam lima besar negara produsen alas kaki yang menghasilkan sebanyak 807 juta pasang dengan 445 juta pasang diekspor ke berbagai negara. Artinya, 55,4% produksi alas kaki Indonesia diminati konsumen mancanegara.

