RI Ingin 'Jor-joran' Impor LPG dan LNG dari AS, DEN 'Wanti-wanti' Hal Ini
JAKARTA, investortrust.id - Anggota pemangku kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Musri menilai, rencana pemerintah yang ingin mengimpor LPG dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Amerika Serikat (AS) secara besar-besaran mesti dipikirkan secara serius. Pasalnya, ini berkaitan dengan ketahanan energi nasional.
Sebagai seorang akademisi, Musri memandang, impor energi perlu dilakukan dari berbagai negara berbeda (diversifikasi). Menurut dia, Indonesia tidak boleh terpaku pada negara tertentu, karena akan menyebabkan ketergantungan.
“Ada risiko terkait ketahanan kita. Kalau kita hanya mau terpaku di satu negara, kemudian ada masalah, bisa terjadi krisis. Maka dengan adanya upaya bahwa ada (impor) dari Amerika, Timur Tengah, Afrika, itu sesuatu yang baik,” kata Musri saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (10/4/2025).
Baca Juga
Airlangga: Indonesia Tingkatkan Pembelian LNG dan LPG dari AS
Dia menerangkan, yang menjadi kunci persoalan ini adalah soal harga. Maka dari itu, sepanjang harga impornya sesuai kesanggupan pemerintah, seharusnya tidak masalah mendatangkan dari berbagai negara lain. “Kan kuncinya adalah soal harga. Kalau harganya pemerintah masih masuk dalam jangkauan sesuai kondisi perekonomian kita, why not?” ujar dia.
Sebelum ini, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia akan meningkatkan impor elpiji (LPG) dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Amerika Serikat (AS) dalam rangka menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara.
Langkah ini menyusul tarif resiprokal 32% Presiden AS Donald Trump menyusul pemerintah memilih jalur negosiasi dengan meningkatkan kinerja impor dari negeri Paman Sam tersebut.
"Pembicaraan dengan Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) dan arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto) kita juga menyiapkan meningkatkan pembelian LPG dan LNG dari Amerika," kata Airlangga dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia bertajuk "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan" di Menara Mandiri Sudirman, Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Baca Juga
Dia mengatakan, pembelian ini tidak menambah porsi, tetapi hanya realokasi sehingga tidak mengganggu anggaran negara. "Pembelian hanya switch, jadi tidak mengganggu APBN," kata Airlangga.
Selain LPG dan LNG, kata Airlangga, Indonesia akan meningkatkan pembelian engineering product dan produk agrikultur, seperti kedelai. "Yang kita tidak punya, seperti soybean dari negara penghasil agrikultur yang kebetulan daerah ini adalah konstituennya Republik (pendukung Donald Trump)," kata Ailrangga.

