Gaikindo Minta Pemerintah Waspadai Thailand, Malaysia, dan Vietnam di Tengah Teror Tarif Impor AS
JAKARTA, investortrust.id - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) meminta pemerintah RI mewaspadai perkembangan industri otomotif global, utamanya di Thailand, Malaysia, dan Vietnam di tengah teror tarif impor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) sebesar 32%.
“Kan kita memiliki Asean Free Trade Agreement (AFTA), ya kita harus hati-hati terhadap negara-negara ASEAN lainnya, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam. Pokoknya kita harus terus meningkatkan industri otomotif di Indonesia agar mampu bersaing di kancah dunia,” lugas Ketua I Gaikindo, Jongkie D Sugiarto kepada investortrust.id, Kamis (3/3/2025).
Berdasarkan catatan investortrust.id, Presiden AS Donald Trump telah menetapkan tarif impor terhadap puluhan negara negara pengekspor komoditas, termasuk Indonesia. Trump mematok tarif 32% terhadap komoditas ekspor dari Indonesia. Pengenaan tarif ini dilakukan karena Indonesia menerapkan tarif yang jika ditotal mencapai 64% terhadap produk asal AS.
Baca Juga
Trump Konfirmasi Tarif 25% untuk Impor Mobil akan Dimulai 3 April
Dalam dokumen 2025 National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers, Indonesia dipandang telah menaikkan tarif impor secara progresif selama 10 tahun terakhir. Peningkatan tarif terjadi pada berbagai komoditas impor.
“Khususnya barang yang bersaing dengan produk buatan dalam negeri,” bunyi dokumen itu.
Berdasarkan laman kemendag.go.id, terdapat 22 komoditas yang diekspor ke AS. Puluhan komoditas itu terdiri dari alas kaki, gula kelapa, hasil hutan (kayu), kakao, kopi, kosmetik, mainan anak, minyak atsiri, minyak sawit, obat herbal, serta pangan olahan.
Produk lainnya yaitu peralatan listrik dan elektronik, peralatan medis, perhiasan, produk karet, produk kimia organik, produk (komponen) otomotif, produk kulit, produk perikanan, produk tekstil, rempah-rempah, dan udang.
AS Soroti Komoditas RI
Dalam dokumen 2025 National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers, AS menyoroti sejumlah komoditas, seperti elektronik, mesin penggilingan, bahan kimia, kosmetik, obat-obatan, anggur, dan minuman beralkohol, serta kawat besi dan paku. Beberapa produk pertanian juga menjadi perhatian AS.
Melansir laporan ASEAN Briefing, industri otomotif Thailand saat ini bernilai US$ 12,67 miliar, menempati peringkat ke-10 secara global dalam produksi kendaraan. Pada 2023, sebanyak 2,55 juta unit kendaraan diproduksi Thailand. Angka ini diperkirakan mencapai 2,98 juta unit pada 2028, mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 2,5%.
Baca Juga
Ada Insentif Fiskal, Gaikindo Yakin PPN 12% Tak Akan Gerus Penjualan Mobil 2025
Di sisi lain, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam memperkirakan pasar otomotif negara itu tumbuh sekitar 12% pada 2025, dengan penjualan diperkirakan mencapai 600 ribu unit. Namun, masuknya kendaraan impor dalam bentuk utuh tak terurai (completely built-up/CBU) diperkirakan memberikan tekanan besar pada industri otomotif domestik.
Menurut Asosiasi Produsen Mobil Vietnam (VAMA), penjualan otomotif mencapai 340.142 unit pada 2024, meningkat 12,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Yang menarik, penjualan kendaraan rakitan dalam negeri turun 5%, sementara penjualan kendaraan impor melonjak 39%, meskipun terdapat insentif berupa pemotongan 50% biaya registrasi selama tiga bulan untuk mobil yang dirakit secara lokal.

