Tren Tambang Bawah Tanah Diprediksi Meningkat, Risiko Kerusakan Lingkungan Kecil
JAKARTA, investortrust.id - Tren pertambangan bawah tanah diprediksi bakal meningkat di masa mendatang. Meski berbiaya lebih tinggi, namun risiko kerusakan lingkungan dinilai lebih kecil jika dibandingkan dengan tambang terbuka.
Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Bidang Tata Kelola Minerba, Irwandy Arif menyebut peningkatan tren tambang bawah tanah seiring dengan berkurangnya cadangan mineral di permukaan.
"Peluang pengurangan risiko dampak lingkungan yang muncul lebih kecil dari tambang permukaan," kata Irwandy dikutip Senin (25/12/2023).
Baca Juga
Freeport Dukung Relaksasi Aturan Perpanjangan IUPK, Investasi Tambang Bawah Tanah Butuh 12-15 Tahun
Irwandy mengingatkan perusahaan yang hendak melakukan pertambangan bawah tanah agar menyiapkan diri serta mematuhi aturan yang ada demi mewujudkan keselamatan kerja bagi para pekerjanya. Terutama terkait modal yang lebih tinggi dibanding tambang permukaan.
Misalnya, biaya operasional tambang bawah tanah diperkirakan 2 kali lebih mahal dibandingkan tambang terbuka. Lalu modal tambang bawah tanah kira-kira 3-4 kali lebih mahal dibandingkan tambang terbuka.
"Meski demikian biaya-biaya itu bisa dipangkas dengan adanya disruption technologies," tuturnya.
Baca Juga
Diresmikan KESDM, Tambang Batu Bara Bawah Tanah Pertama di Indonesia Mulai Produksi Perdana
Dia mengungkap cadangan pada kedalaman tertentu harus dilakukan dengan metode bawah tanah dan sangat berisiko jika dengan sistem terbuka. Selain itu, pembatasan masalah lingkungan dan mobilitas peralatan menjadi masalah selanjutnya pada tambang terbuka yang terlalu dalam.
"Potensi tambang batubara bawah tanah di Indonesia masih sangat besar," jelasnya.

