Mendag Sebut Tingginya Permintaan Ekspor Akibatkan Kelapa Langka dan Mahal
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan penyebab kelapa yang mengalami kelangkaan dan harganya menjadi melonjak. Beberapa pemicunya adalah dikarenakan banyaknya permintaan ekspor, dan kebutuhan industri yang tinggi.
"Kelapa itu kan banyak permintaan ekspor juga ya. Banyak permintaan ekspor, terus industri di dalam negeri juga banyak minta," ucap Mendag Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Jumat (21/3/2025).
Terkait kelangkaan dari komoditas kelapa tersebut, Mendag Budi mengatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan sejumlah kebijakan dan evaluasi. Dalam waktu dekat, ia akan mendiskusikannya dengan eksportir dan pelaku industri.
Kondisi ini pun berdampak pada harga kelapa di tingkat eceran atau pasar. Diketahui, harga kelapa yang biasanya Rp 10.000 per butir, kini meningkat 50% menjadi Rp 15.000 per butir.
Baca Juga
"Nah kita akan evaluasi bareng-bareng, kan dari sisi industri, dari sisi eksportir, petani kan harus berkumpul bareng. Kita lihat juga harganya, jadi misalnya, jangan sampai misalnya ekspornya kalau informasinya lebih mahal ya harganya," bebernya.
Sebelumnya diketahui, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan, ekspor kelapa bulat pada Februari 2025 meningkat 29,84% secara bulanan atau month to month (mtm). Ekspor paling banyak ditujukan ke China dan Vietnam.
"Menurut data yang kita miliki, ekspor kelapa bulat menunjukkan adanya peningkatan sebesar 29,84% secara month to month. Sebagian besar ekspor kelapa bulat ditujukan ke Tiongkok dan Vietnam," ucap Amalia dalam konferensi persnya belum lama ini.

