Industri Elektronik Hadapi Tantangan Berat, Ini Strategi Sharp
JAKARTA, investortrust.id - Industri elektronik menghadapi tantangan berat di 2025, dengan proyeksi penurunan daya beli akibat pengetatan anggaran APBN dan APBD. Menanggapi kondisi ini, PT Sharp Electronics Indonesia menyiapkan strategi ekspansi dan efisiensi untuk tetap kompetitif di pasar.
National Sales Senior GM PT Sharp Electronic Indonesia, Andri Adi Utomo, menyatakan bahwa ekspansi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Di sisi lain Sharp juga sedang mencermati kondisi ekonomi makro yang diperkirakan belum pulih sepenuhnya.
"Kami belum bisa bicara banyak karena masih bagian dari strategi kami. Tapi yang pasti, kita akan menambah kapasitas produksi dan lini produksi," ujarnya kepada investortrust.id di Pameran Omotenashi 55 Tahun Sharp di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (12/3/2025).
Menurutnya, kebijakan pengetatan belanja APBN dan APBD menjadi faktor utama yang dapat memperlambat pertumbuhan industri elektronik di Indonesia. "Kami masih wait and see terhadap kebijakan pemerintah, terutama dengan kepala daerah baru yang dilantik. Indikator ekonomi menunjukkan anggaran akan lebih ketat, padahal ini salah satu penggerak utama industri," jelasnya.
Baca Juga
Pemerintah Pacu Pemanfaatan Muatan Lokal di Industri Elektronik
Awal tahun 2025, pasar elektronik juga mengalami tekanan yang cukup signifikan. Berdasarkan data internal Sharp, penjualan secara keseluruhan mengalami penurunan sekitar 10-15% selama Januari hingga Februari. Beberapa kategori produk seperti AC mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan lainnya.
Meski demikian, Sharp tetap optimistis dengan momentum Ramadan dan Idulfitri 2025 yang biasanya menjadi puncak penjualan elektronik. Sebagai langkah antisipasi, perusahaan mulai menggeser fokus strategi pemasaran langsung ke konsumen agar tetap dapat memenuhi permintaan.
"Kita lebih fokus ke sell-out, langsung ke customer dan end user. Dengan cara ini, permintaan yang melemah tetap bisa kita dorong dengan ketersediaan produk yang siap," tambah Andri.
Selain memperkuat distribusi, Sharp juga menargetkan peningkatan efisiensi sebagai langkah menghadapi situasi ekonomi yang menantang. Perusahaan berharap, dengan strategi ini, mereka dapat mempertahankan pertumbuhan bisnis yang stabil hingga kondisi pasar mulai membaik pada 2026 seiring dengan kebijakan pemerintah yang lebih longgar.
Dengan berbagai langkah ini, Sharp menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan berkembang di tengah tantangan ekonomi makro. "Kami tidak hanya bertahan, tapi juga terus mencari peluang untuk tumbuh dan menjadi lebih kompetitif di industri ini," tutup Andri. (C-13)
Baca Juga
Industri Elektronik Indonesia Masih Tergerus Impor, Ini Penyebabnya

