Investasi Kripto Tak Boleh FOMO, Simak Strateginya
JAKARTA, investortrust.id - Influencer sekaligus pelaku industri kripto Theresa Learns mengingatkan agar tidak berinvestasi kripto karena ikut-ikutan lantaran takut ketinggalan tren alias fear of missing out (FOMO). Pasalnya, berinvestasi kripto membutuhkan strategi dan perhitungan yang matang.
Sebagai content creator, Theresa memiliki impian agar masyarakat Indonesia bisa lebih teredukasi sehingga tidak asal-asalan berinvestasi kripto. "Penting untuk diketahui aset yang mereka investasikan itu memiliki background apa dan potensi untuk naik ke depannya itu seperti apa," kata Theresa dalam acara Cryptalk With Triv di Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Baca Juga
Prospek Pasar Kripto di Indonesia Diprediksi Cerah, Ini Penyebabnya
Theresa menilai, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap investasi kripto sangat bagus. Namun, dia mengingatkan, agar investor ritel tidak FOMO dengan langkah-langkah yang diambil investor institusional.
“Institusional mulai masuk, mereka pasti ada riset timnya sendiri. Mereka pasti juga ada departemen yang meyakinkan para BOD-nya kalau Bitcoin ini atau cryptocurrency ini adalah aset bagus untuk mereka investasikan. Namun, masalahnya dengan investor ritel, apalagi mungkin di Indonesia ya, aset kripto ini masih sangat baru, masih sangat muda,” kata dia.
Theresa membandingkan kondisi kripto sekarang dengan pasar modal di masa lalu. Dia menyebut, saat dahulu ketika pasar modal mau masuk ke industri, maka volatilitas cukup tinggi, sama dengan kripto sekarang.
“Nah di sini, para ritel yang tidak terlalu teredukasi, mereka pikirnya pasti akan langsung otomatis scam. Jika harganya turun, oh scam, duitnya habis. Harganya naik, FOMO, mau beli ketika di atas. Nah itu yang sebenarnya saya mau tingkatkan juga dan hindari juga ya, orang-orang yang investasi itu karena FOMO,” ujar dia.
Dia tidak memungkiri berinvestasi kripto hanya karena ikut-ikutan memiliki potensi kerugian besar. Apalagi saat ini semakin banyak meme koin yang bertebaran.
“Sebenarnya kalau dari industri, meme koin itu merusak pasar. Apalagi meme koin-meme koin yang mungkin belum listing di exchange besar, yang mereka biasa terletak di DEX atau di decentralized exchange,” ucap Theresa.
Baca Juga
Skandal Kripto Argentina Jadi Pencurian Kripto Terbesar Sepanjang Masa
Dijelaskan Theresa, launching koin kripto jauh lebih gampang dibandingkan perusahaan menjual saham melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Hal ini yang harus diperhatikan agar tidak terkena scam.
“Itu sebenarnya walaupun bagus, jadi hal yang buruk juga, karena banyak orang-orang tidak cuma dari Indonesia, tetapi global, mereka memanfaatkan kesempatan itu. Mereka launching token, kemudian ngambil tokennya semua, dan ya udah kan beneran jadi scam project,” ucap dia.
Untuk itu, bagi masyarakat yang baru mau masuk ke kripto, Theresa menyebut perlu banyak diedukasi.

