AS Sanksi Iran, Harga Minyak Terdongkrak
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak pada Selasa (25/2/2025) pagi terpantau masih bergerak tren bullish. Hal ini didukung oleh sentimen dari potensi mengetatnya pasokan minyak Iran akibat sanksi baru Amerika Serikat, dan serangan drone Ukraina yang menyebabkan terhentinya kilang minyak Ryazan Rusia.
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, AS pada hari Senin menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan lebih dari 30 broker, operator tanker, dan perusahaan pelayaran atas peran mereka dalam mengangkut minyak Iran. Hal ini sebagai bagian dari upaya Presiden AS Donald Trump untuk menekan ekspor minyak mentah Iran hingga nol.
"Sanksi baru tersebut memicu kekhawatiran dapat memperketat pasokan dari negara produsen minyak terbesar ketiga di OPEC tersebut. Iran memproduksi 3,2 juta bph," ulas riset ICDX, Selasa (25/)02/2025).
Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) memaparkan, AS pada hari Senin menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan lebih dari 30 broker, operator tanker, dan perusahaan pelayaran atas peran mereka dalam mengangkut minyak Iran. Hal ini sebagai bagian dari upaya Presiden AS Donald Trump untuk menekan ekspor minyak mentah Iran hingga nol.
"Sanksi baru tersebut memicu kekhawatiran dapat memperketat pasokan dari negara produsen minyak terbesar ketiga di OPEC tersebut. Iran memproduksi 3,2 juta bph," ulas riset ICDX, Selasa (25/)02/2025).
Baca Juga
Dukungan penguatan lain datang dari berita pabrik kilang minyak Ryazan Rusia yang menghentikan operasi pada hari Senin, pascaserangan pesawat drone Ukraina. Serangan menyebabkan kebakaran pada CDU-6, unit penyulingan utama di kilang tersebut.
"Unit CDU-6 memiliki kapasitas sekitar 170.000 barel minyak per hari, atau sekitar 48% dari kapasitas penyulingan kilang Ryazan yang memproses 13,1 juta metrik ton (262.000 bph), atau hampir 5% dari total produksi penyulingan Rusia pada tahun 2024," urainya.
Menteri Perminyakan Irak Hayan Abdel-Ghani, pada hari Senin, mengatakan sedang menunggu persetujuan dari Turki untuk dapat mulai memasok kembali minyak dari wilayah Kurdistan Irak. Ia menambahkan bahwa ekspor minyak Kurdi diharapkan akan siap dalam dua hari.
"Dimulainya kembali ekspor yang cepat dari wilayah semi-otonom Kurdistan Irak itu diharapkan akan dapat mengimbangi potensi penurunan ekspor minyak Iran,"ujarnya.
Baca Juga
Sementara itu, tim administrasi Trump berencana untuk memperketat pembatasan semikonduktor di Cina, menyusul hasil pertemuan pejabat AS baru-baru ini dengan tim teknisi dari Jepang dan Belanda. "Berita tersebut memicu kekhawatiran akan dapat meningkatkan eskalasi perang dagang antara AS dengan Cina," tuturnya.
Melihat dari sudut pandang teknis, ICDX memproyeksikan harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 74 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 69 per barel.

