Bahlil Ngaku Belum Terima Pengajuan Perpanjangan Ekspor Konsentrat Amman Mineral
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya belum menerima permohonan perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2023 tentang Kelanjutan Pembangunan Fasilitas Pemurnian Mineral Logam di Dalam Negeri, seluruh perusahaan tambang yang mengelola tambang wajib membuat smelter. Adapun, izin ekspor konsentrat tembaga AMMN selesai per 31 Desember 2024.
Baca Juga
Bahlil menyampaikan bahwa sejauh ini Kementerian ESDM baru menerima permohonan perpanjangan izin ekspor konsentrat tembaga dari PT Freeport Indonesia (PTFI) saja. “Sampai sekarang yang mengajukan (relaksasi ekspor) hanya Freeport. (Amman Mineral) belum,” kata Bahlil saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Diketahui, Amman Mineral telah meminta relaksasi ekspor konsentrat tembaga seiring proses commissioning smelter yang berjalan lebih lambat dari rencana. Hal itu disampaikan dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR di Jakarta, Rabu (19/2/2025).
Presiden Direktur Amman Mineral Rachmat Makkasau mengatakan, saat ini smelter yang dibangun oleh anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), baru mencapai kapasitas operasi sekitar 48%.
“Proses commissioning berjalan lambat karena kami melakukan berbagai upaya untuk memastikan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, karena ini adalah teknologi baru yang sangat berbeda dengan kemampuan kami sebagai penambang,” ungkap Rachmat.
Baca Juga
Dirut Alexander Ramlie Borong Rp 1,01 Triliun Saham Amman Mineral (AMMN)
Amman sendiri memulai proses commissioning sejak Juni 2024 setelah menyelesaikan tahap mechanical completion pada Mei 2024. Namun, karena kompleksitas teknologi yang digunakan, proses startup smelter mengalami kendala teknis. “Dengan itu kami juga berharap dapat diberikan fleksibilitas untuk melakukan ekspor mengingat banyaknya ketidakpastian dalam proses commissioning ini," ujar dia.
Smelter yang dibangun Amman Mineral berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Smelter tersebut memiliki kapasitas pengolahan 900.000 ton konsentrat tembaga per tahun, dengan target produksi 220.000 ton katoda tembaga. Smelter ini juga akan menghasilkan produk sampingan, seperti 830.000 ton asam sulfat, 18 ton emas batangan, 55 ton perak, dan 77 ton selenium.

