Kadin Indonesia Bertemu Duta Pemerintah Australia
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menggelar pertemuan dengan Utusan Khusus Perdana Menteri Australia untuk Indonesia Jennifer Westacott pada Selasa (11/2/2025) . Dalam pertemuan dibahas rencana kunjungan Kadin Indonesia ke Australia di bulan Maret 2025 mendatang yang akan membahas sejumlah isu terkait kerja sama ekonomi.
Disampaikan Anin, kedatangan Jennifer Westacott diikuti oleh sejumlah pengelola dana, atau fund manager yang mengelola dana sebesar US$ 1,3 triliun.
“Beliau hadir dengan 36 fund managers yang mewakili pengelola dana senilai total US$ 1,3 triliun. Jadi ini dana yang sangat besar US$ 1,3 triliun itu hampir sama dengan ekonomi Indonesia,” kata Anindya Bakrie saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Selasa (11/2/2025).
Dalam kesempatan tersebut Anin juga membocorkan rencana kunjungan Kadin Indonesia ke Australia, yang direncanakan ini akan dilakukan bersamaan dengan pertandingan Timnas Indonesia vs Australia dalam lanjutan babak kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Negeri Kanguru pada Kamis (20/3/2025) mendatang.
Dipaparkan Anin, nantinya dalam kunjungan tersebut kedua belah pihak bakal membahas sejumlah hal. Pertama adalah terkait dengan pendanaan agar bisa membantu Indonesia Incorporated dalam rangka privatisasi sejumlah aset infrastruktur di Tanah Air.
Baca Juga
Gandeng KITA, Ketum Kadin Anindya Ingin UMKM Domestik Tembus Pasar Korea Selatan
“Nah ini saya rasa bagus sekali karena dengan sendirinya aset-aset infrastruktur seperti toll road, bandara, jembatan, dan lain- lain, mana pun yang mau diprivatisasi, mereka tertarik. Nah Kadin sebagai naungan dunia usaha tentu tahu sekali poyek-poyek ini dan tahu teman-teman swasta yang tertarik di bidang ini,” ujar dia.
Selain itu, Anin juga mengatakan bahwa kedua belah pihak tertarik untuk membahas mineral kritis. Bagi Indonesia, kesepakatan ini akan memberi keuntungan karena Australia memiliki lithium. Dan juga, mereka mempunyai free trade agreement dengan Eropa dan Amerika.
“Jadi kalau ada kerja sama siapa tahu bisa dibikin suatu struktur, di mana kita juga bisa mengakses pasar-pasar tersebut,” terang Anindya.
Terakhir, kerja sama di bidang kesehatan pun turut menjadi perhatian Kadin dan Pemerintah Australia. Anin mengatakan, Australia tertarik untuk membantu mencetak tenaga kerja medis perawat yang mampu berbahasa Inggris, sehingga nanti bisa dikirim ke berbagai negara yang membutuhkan.
“Jadi ini tenaga kerja migran yang bisa kita andalkan juga ada kerja samanya. Jadi paling tidak beberapa hal tersebut lah yang dibicarakan dengan utusan khusus dari Perdana Menteri Australia,” ucap Anindya.

