Garuda Indonesia Lirik Pesawat Buatan China, Bakal Beli?
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), Wamildan Tsani Panjaitan menyebutkan, pihaknya tengah 'melirik' pesawat buatan China, yaitu COMAC 919 (C919). Diketahui, klasifikasi pesawat tersebut tak kalah dengan buatan Airbus dan Boeing yang tersohor.
“Sampai sekarang (pesawat COMAC, red) itu masih menjadi kajian kami ya. Kalau komunikasi sudah dimulai, tetapi kan kalau sampai betul-betul pesawatnya kita operasikan itu prosesnya masih panjang sekali,” ungkap Wamildan saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis (2/1/2024).
Sebagai informasi, C919 merupakan jet berbadan sempit yang dirancang untuk bersaing dengan Boeing 737 dan Airbus A320. C919 memiliki jarak tempuh standar 4.075 - 5.555 kilometer, serta dapat mengakomodasi 158 hingga 168 penumpang.
Sebelumnya, pabrik pesawat Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) membawa produk terbarunya C919 ke Indonesia pada 10 - 11 Maret 2024 di Hanggar 2 GMF, kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Baca Juga
Garuda Indonesia dan Pelita Air Bakal Tambah Pesawat di Tahun Ular Kayu
“Pesawat sekelas Airbus A320 dan Boeing B737 NG ini tampak gagah berdampingan dengan pesawat produksi COMAC sebelumnya yaitu ARJ-21 yang sudah dioperasikan oleh maskapai TransNusa,” tulis akun Instagram @inaca.or.id, dikutip Kamis (2/1/2025).
Beberapa pengurus INACA dan maskapai anggota terlihat hadir melihat-lihat pesawat C919 ini seperti eks Direktur Garuda Indonesia Irfan Setiaputra, CEO Sriwijaya Air Freeman Fang, Perwakilan Lion Group, Indonesia AirAsia dan maskapai lainnya.
Melansir Bloomberg, COMAC telah berdiskusi dengan beberapa petinggi maskapai penerbangan salah satunya Bos Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan.
COMAC disebut memiliki peluang besar sebagai pemasok pesawat maskapai Garuda Indonesia yang tengah mencari puluhan pesawat baru.
“Garuda Indonesia sedang mencari hingga 70 pesawat baru dan juga berbicara dengan Boeing Co. dan Airbus SE. Keterlambatan pengiriman pesawat, terutama karena masalah rantai pasokan dan mogok kerja di Boeing, meningkatkan peluang COMAC untuk memperoleh pesanan,” seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (2/1/2025).
Selain indonesia, COMAC juga telah berkomunikasi dengan SCAT Airlines di Kazakhstan dan Angkor Air di Kamboja.
COMAC juga memiliki kesempatan besar di Indonesia mengingat di era Kepresidenan Prabowo Subianto yang ingin memperkuat jasa penerbangan udara hingga memperluas jaringan rute internasional.

