Hilirisasi Batu Bara Bisa ke Banyak Produk, Indonesia Pilih yang Mana?
JAKARTA, investortrust.id - Penyelidik Bumi Balai Besar Pengujian Mineral dan Batu Bara (BBPMB) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Cipta Irawan menyebut, Indonesia memiliki potensi besar dalam hilirisasi batu bara, mengingat ketersediaan batu bara RI yang sangat melimpah.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 99,19 miliar ton, dengan cadangan mencapai 35,05 miliar ton. Dengan demikian, sisa umur cadangan batu bara RI diperkirakan bisa terpenuhi hingga 60 tahun ke depan.
Mengingat penggunaan batu bara sebagai sumber pembangkit listrik mulai dikurangi, maka hilirisasi batu bara menjadi kewajiban untuk memanfaatkan sumber daya yang melimpah tersebut. Cipta mengatakan, hilirisasi batu bara RI ini bisa menghasilkan banyak produk.
Baca Juga
Volume Produksi Batu Bara Royaltama Mulia (RMKO) masih Turun
“Secara teknikal, batu bara di Indonesia itu kan beragam. Sehingga dari beragamnya itu memang pemanfaatan apa pun cocok. Dari segi teknis, mau gasifikasi bisa, semikokas karbonisasi bisa, pencairan bisa. Jadi dari sisi teknis, semuanya bisa,” ujar Cipta dalam acara Coffee Morning Program Hilirisasi Minerba, Rabu (30/10/2024).
Dipaparkan oleh Cipta, sejauh ini pemanfaatan batu bara memang untuk ketenagalistrikan. Tercatat lebih dari 60% sumber pembangkit listrik di Indonesia berasal dari batu bara. Padahal, hilirisasi bisa membuat batu bara dimanfaatkan untuk berbagai hal lain, seperti misalnya pembuatan kokas dan semikokas.
Cipta menerangkan, batu bara kokas dan semikokas bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri baja dan smelter. Sementara itu, proses gasifikasi bisa membuat batu bara menjadi metanol. Metanol inilah yang kemudian bisa diolah menjadi berbagai produk lain seperti olefin, gasoline, formaldehid, hingga DME synthetis.
Bukan hanya itu, gasifikasi batu bara juga bisa menghasilkan ammonia synthesis yang nantinya dapat dikembangkan menjadi urea maupun ammonium nitrat. Maka dari itu, Cipta menyebut bahwa perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk menentukan akan di bawa kemana fokus dari hilirisasi batu bara ini.
“Kalau ke arah mana? Memang harus ada analisa pasarnya tersendiri. Nah kan juga hilirisasi tidak hanya mengenai teknis kan, ada pasar, ekonomi, dan lain sebagainya. Itu juga harus dikaji. Tapi dari sisi teknis, batu baranya cocok untuk semua,” jelas Cipta.
Lebih lanjut Cipta menyebutkan, jika dipahami secara statistik, Indonesia yang saat ini sedang mendorong energi baru, maka hilirisasi batu bara untuk industri petrokimia, memang pangsa pasarnya terbuka.
“Dari metanol itu cukup terbuka, karena di Indonesia cuma satu. Ada produsennya KMI doang, Kaltim Metanol Indonesia, serta masih banyak demand yang Indonesia perlukan dari sisi metanol. Dari sisi semikokas pun seperti itu. Saya rasa masih banyak pasar yang bisa diutupi dari hilirisasi batu bara,” ucap dia.

