Kecepatan Koneksi Internet RI Kalah dari Negara Jiran, Ini Kata Menkominfo
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tak menampik kecepatan koneksi internet di Indonesia masih belum bisa mengalahkan negara tetangga meskipun sudah meningkat hingga 10 kali lipat dalam satu dekade.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan kecepatan internet Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun berhasil meningkat dari 2,5 Mbps menjadi 25 Mbps. Peningkatan tersebut seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur telekomunikasi mulai dari menara stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS), Palapa Ring, dan Satelit Republik Indonesia 1 (Satria-1).
Walaupun demikian, dia tak menampik bahwa kecepatan internet di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
"Memang kita dari peringkat di (kawasan) Asia Tenggara, kita agak di bawah, tapi kita optimistis dengan teknologi baru, kerja keras, kerja sama dan insentif kepada operator seluler mengembangkan network (jaringan), kita bisa mencapai 100 Mbps dalam lima tahun ke depan," katanya ketika ditemui di kantor Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2024).
Baca Juga
Indonesia Internet Exchange Kedua di Jakarta Resmi Beroperasi
Mengacu pada The Speedtest Global Index by Ookla, Indonesia menduduki posisi ke-80 dari 108 negara dengan median kecepatan unduh internet mobile sebesar 28,35 Mbps.
Ketika disandingkan dengan negara-negara tetangga lainnya di Asia Tenggara, kecepatan unduh internet mobile Indonesia masih sangat kurang. Singapura sebagai negara dengan median kecepatan unduh internet mobile terkencang di Asia berada di urutan 13 secara global, kecepatannya mencapai 104,98 Mbps. Nilai tersebut naik dari Desember 2023, dengan median kecepatannya sebesar 93,42 Mbps.
Malaysia menunjukkan peningkatan paling signifikan, median kecepatan unduhnya naik menjadi 98,84 Mbps, membuatnya duduk di urutan ke-19 dunia. Padahal, pada Desember 2023 lalu, kecepatan unduhnya berada di median 69,92 Mbps.
Vietnam mengisi posisi ketiga di Asia Tenggara sekaligus ke-48 global dengan kecepatan unduh sebesar 53,38 Mbps. Thailand menyusul dengan median kecepatan unduh internet mobile sebesar 52,05 Mbps, diikuti Filipina (33,19 Mbps), Myanmar (30,89 Mbps), dan Laos (28,92 Mbps).
Lebih lanjut, Budi Arie mengatakan pengukuran tersebut menurutnya tidak mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia. Selain wilayahnya yang jauh lebih luas dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya, kondisi geografis Indonesia yang notabene adalah negara kepulauan juga membuat penggelaran jaringan telekomunikasi lebih menantang.
"Kalau saya minta perbandingan, saya bilang bandingin dengan India dan negara Asia Tenggara non-Singapura, supaya fair. Kalau kita bandingin dengan Singapura, ya enggak adil dong. Masak dibandingkan dengan kota. Jadi, menurut saya dengan negara lain tetap luasan kita," tutur Budi Arie.
Baca Juga
Menkominfo: Kecepatan Internet Naik 10 Kali Lipat dalam Satu Dekade Terakhir
Pria yang juga dikenal sebagai Ketua Umum Relawan Pro Joko Widodo (Jokowi) atau Projo itu optimistis kecepatan internet Indonesia bisa mengalahkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Dia menargetkan kecepatan internet Indonesia dalam lima tahun ke depan bisa tembus 100 Mbps, tepatnya di saat masa pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
"Soal kecepatan internet, misalnya tahun 2014 baru 2,5 Mbps, maka sekarang hampir 25 Mbps. Berarti 10 kali lipat kecepatan internet Indonesia meningkat selama 10 tahun. Nah, apakah akan terus meningkat di tahun-tahun depannya, ya harus," tegasnya.
Peningkatan kecepatan internet di Tanah Air juga akan diikuti oleh bertambahnya luas wilayah yang mendapatkan akses internet, khususnya wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Budi Arie mengeklaim 80% wilayah Indonesia saat ini sudah mendapatkan akses internet.
"Konektivitas atau akses ke sinyal itu sudah lebih merata karena menurut data terakhir itu tingkat penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai 80% dari penduduk Indonesia," pungkasnya.

