Indonesia Butuh Waktu 10 Tahun Bisa Produksi CPO 100 Juta Ton per Tahun
JAKARTA, Investortrust.id – Indonesia diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun untuk bisa meningkatkan produksi CPO per tahunnya menjadi 100 juta ton, dibanding saat ini yang masih sekitar 50 juta ton per tahun.
Disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono saat bincang-bincang dengan CEO Investortrust.id, Primus Dorimulu saat berada di Mataram, Sabtu (28/9/2024), selain membutuhkan waktu satu tahun, tingkat produktivitas per hekater lahan juga harus mampu digenjot menjadi 5 ton per hektare.
“100 juta ton itu berarti kan kita butuh kira-kira produktivitas sekitar 5 ton per hektare. Jadi saya meyakini paling tidak sekitar, kalau betul-betul ini dilaksanakan dengan baik ya, baru 10 tahun ke depan,” ujar Eddy.
Saat ini, kata Eddy, produksi CPO sekitar 50 juta ton per tahun disumbang dari 16 juta hektare lahan. Dari luas lahan tersebut sebagian besar dimiliki oleh korporasi, dengan 6 juta hektare di antaranya dimiliki oleh rakyat pekebun, dan sekitar 600 ribu hektare dimiliki oleh perusahaan pelat merah.
Dengan produksi sekitar 100 juta ton per tahun, setidaknya akan menghindarkan Indonesia dari konflik pangan dan energi di komoditas sawit. Pasalnya dengan rencana meningkatkan penggunaan biodiesel dalam bauran bahan bakar solar menjadi 40% atau B40 saja diperkirakan akan terjadi pengurangan jatah ekspor dan konsumsi domestik.
Berkurangnya pasokan untuk ekspor dipastikan bakal menekan tingkat devisa yang bsia dihasilkan dari ekspor CPO, yang selama ini dinilai signifikan dan berada di posisi kedua sebagai kontributor utama penyumbang devisa di bawah batu bara.
Namun demikian peningkatan produksi bukanlah hal mudah. Dengan tingkat produktivitas yang rendah, utamanya pada pekebun rakyat, dibutuhkan upaya ekstra yang salah satunya dalam bentuk replanting tanaman-tanaman matured, yang sebagian besar dimiliki oleh pekebun rakyat.
Upaya peremajaan sawit rakyat setidaknya harus dilakukan di 2,4 juta hektare lahan milik rakyat.
“Dari 2,4 juta hektare itu paling bisa secara normalnya replanting sekitar 100.000-150.000 hektare per tahun. Jadi tidak bisa seperti membalikkan tangan,”ujar Eddy.

