PGN: Konversi Energi Industri Pertambangan Butuh Biaya Ratusan Juta Dolar
JAKARTA, Investortrust.id - Industri pertambangan yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan batu bara sebagai pemasok energi butuh diminta untuk mulai beralih ke energi yang ramah lingkungan. Langkah ini sebagai komitmen untuk net zero emission (NZE) yang ditargetkan pemerintah pada 2060.
Untuk mendukung upaya itu, industri pertambangan butuh dana yang tak sedikit. Ini karena mereka harus berinvestasi membangun supply chain sumber energi berupa gas.
“Di industri pertambangan, infrastruktur ini biasanya harus bangun baru. Karena memang di Indonesia ini, sudah terbiasa menggunakan BBM dan batu bara untuk pembangkitnya,” kata Direktur Infrastuktur dan Teknologi, PT Pertamina Gas Negara atau (PGN) Harry Budi Sidharta saat Indonesia Mineral and Energy Conference, Financial Hall, CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (19/12/2023).
Baca Juga
Harry mengatakan industri pertambangan dengan lokasi remote atau terpencil harus membangun saluran baru untuk aliran gasnya. Biaya yang dibutuhkan, kata dia, juga tak sedikit.
“Kalau misalnya sampai di Papua, itu bisa antara US$ 200-300 juta itu tergantung dari situasi geografis, kedalaman laut, dan jauhnya pipa ke pembangkit. Itu yang harus dipikirkan,” ujar dia.
Harry mengatakan untuk menjangkau transisi energi, emisi yang rendah memang menjadi hal penting. Namun, ada faktor liability dan cost competitiveness untuk beberapa industri.
“Untuk industri (pertambangan) yang cadangannya panjang seperti Freeport, sampai 20-30 tahun nggak masalah, artinya investasi di depan yang ratusan juta dolar bisa ter-cover operasional 10-20 tahun ke depan,” kata dia.
Tapi, kondisi berbeda dihadapi industri pertambangan nikel. Menurut Harry, industri nikel dengan cadangan 5-10 tahun dengan harga yang naik turun akan menghadapi tantangan penerapan energi bersih.
“Ketika harus menginvestasikan ratusan juta dolar, tapi kepastian untuk pengembalian atau penggunaan infrastruktur harus ada juga,” ujar dia.
Baca Juga
Laba PGN (PGAS) Tergerus 36% hingga September, Apa Pemicunya?
Harry mengatakan saat ini PGN sudah memiliki fasilitas penyediaan gas melalui pipa untuk wilayah Pulau Sumatera dan Jawa. Bahkan, untuk Maret 2024, PGN akan melayani smelter milik Freeport yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.
“Untuk yang lainnya, kita lagi berusaha menawarkan gas ke pemain-pemain industri. Tapi memang yang jadi kendala yaitu biaya investasinya (infrastruktur)” ucap dia.
Harry berharap terjadi kolaborasi antara industri pertambangan dan listrik untuk memaksimalkan penggunaan volume gas yang disalurkan. “Bisa dipakai bersama-sama industri tambang, PLN, dan industri-industri di sekitarnya. Jadi kalau sudah bersinergi dan kolaborasi, insyaallah biaya infrastruktur penyaluran gas khususnya ke Indonesia Timur, bisa terjangkau,” kata dia.
