Berapa Biaya untuk Bangun Menara BTS? Ini Bocoran dari Mitratel (MTEL)
LABUAN BAJO, investortrust.id - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel (MTEL) mengungkapkan biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun menara stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS).
Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan rerata biaya yang dibutuhkan untuk membangun menara BTS adalah Rp 1 miliar. Biaya tersebut untuk membangun satu menara dengan empat kaki atau rectangular tower dengan ketinggian mencapai 42 meter.
“Average (rata-rata) membutuhkan biaya Rp 1 miliar. Hanya untuk tower (menara) saja yang bahannya dari baja kakinya empat. Ini belum termasuk lain-lainnya ya, termasuk juga tanah yang digunakan atau (biaya) sewanya,” katanya ketika ditemui di menara BTS Mitratel Batu Cermin, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (6/8/2024).
Baca Juga
XL Axiata (EXCL) Minat Pakai 'BTS Terbang' Milik Mitratel (MTEL), Asalkan…
Lantaran konstruksinya yang kokoh, menara dengan empat kaki memiliki kekuatan yang optimal untuk menghindari kemungkinan roboh. Menara ini juga dapat disematkan banyak antena milik operator seluler. Untuk itu, menara BTS dengan jenis ini banyak digunakan oleh perusahaan menara telekomunikasi di Tanah Air, khususnya untuk menara BTS utama atau macro tower.
Kemudian ada juga menara BTS dengan tiga kaki atau triangle tower yang ketinggiannya berkisar 40-60 meter. Menara yang biaya pembangunannya sedikit lebih rendah dari rectangular tower ini menggunakan pondasi disusun dalam beberapa potongan yang berkisar 4-5 meter.
Jenis menara lainnya yang juga digunakan oleh Mitratel dan perusahaan menara telekomunikasi di Indonesia adalah menara satu kaki atau pole. Sesuai namanya, menara ini berwujud seperti halnya tiang listrik dengan diameter yang tentu saja jauh lebih besar.
Menara dengan jenis ini ada dua macam. Pertama, dibuat dengan pipa/plat baja tanpa pengunci (spanner) dengan diameter 40 cm hingga 50 cm dan rata-rata tingginya 42 meter. Kedua, menara yang dibuat dengan spanner yang menurut ahli pembuatannya tidak melebihi 20 meter.
“Kalau menara satu kaki atau monohole ini biayanya lebih murah bisa hanya Rp 600 juta, tetetapi untuk penambahan antena, menara jenis ini perlu perkuatan konstruksi yang biayanya bisa 20% dari capex (capital expenditure atau biaya modal),” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno mengungkapkan pihaknya telah membangun sebanyak 1.000 menara BTS yang mayoritas berada di luar Jawa. Anak usaha dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu sudah menyiapkan belanja modal senilai Rp 5,6 triliun untuk menambah jumlah menara BTS sepanjang tahun ini.
“Semester I itu 1.000 tower kita bangun dan 75% di luar jawa, artinya di luar jawa pembangunan baru sangat dibutuhkan, ini yang kita lihat potensi masih sangat besar,” ujarnya dalam acara Media Gathering Mitratel 2024 di Labuan Bajo, Senin (5/8/2024).
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Bangun 19 BTS di IKN Nusantara, Desainnya Utamakan Estetika
Saat ini, sebanyak 59% atau sejumlah 22.607 menara telekomunikasi yang dimiliki Mitratel berada di luar Jawa. Komposisi ini sejalan dengan langkah strategis perusahaan untuk menangkap peluang ekspansi operator seluler dalam mengembangkan bisnisnya ke luar Jawa.
Hal ini juga terefleksikan dari pertumbuhan jumlah pengguna menara telekomunikasi atau tenant di luar Jawa sebesar 8%, lebih tinggi dibandingkan di Jawa yang pertumbuhannya sebesar 6%. Sejalan dengan itu pertumbuhan tenancy ratio di luar Jawa sebesar 2,3x lebih tinggi dibandingkan di Jawa sebesar 1,6x.
Sebagai catatan, tenancy ratio adalah perbandingan jumlah penyewa, dalam hal ini operator telekomunikasi atau pengguna lainnya, terhadap jumlah menara telekomunikasi yang dimiliki oleh perusahaan.

