Progres Smelter Freeport Indonesia 78%, Senilai Rp 41 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Progres smelter PT Freeport Indonesia sudah sekitar 78%, dengan investasi yang telah digelontorkan senilai Rp 41 triliun. Salah satu perusahaan pertambangan emas terbesar di dunia ini juga siap bersaing dalam transisi energi, yang menjadi tren global.
Pembangunan smelter tersebut meningkatkan kandungan logam penting secara signifikan, yang bisa menjadi modal Indonesia dalam menyambut transisi energi. Dengan pembangunan smelter tersebut, PT Freeport Indonesia bisa menghasilkan kandungan tembaga 600 ribu ton per tahun, emas sekitar 50 ton, dan perak 210 ton.
“Tiga major element produk yang akan dihasilkan dari smelter baru itu. Kalau dari sisi powering the energy transition ecosystem, ini boleh dilihat sebagai powertrain yang cukup tinggi,” kata VP Government Relations & Smelter Technical Support PT Freeport Indonesia Harry Pancasakti, dalam acara Tripatra Sustainable Engineering Summit yang digelar di Pullman Hotel Central Park, Jakarta Barat, Jumat (13/10/2023).
Baca Juga
Harry menjelaskan, tembaga merupakan salah satu logam yang signifikan perannya. Penggunaan tembaga akan meningkat di masa depan, seiring dengan komitmen carbon reduction global.
“Salah satu cara yang bakal ditempuh untuk mewujudkan Net Zero Emission (NZE) 2060 adalah dengan elektrifikasi. Dengan demikian, kendaraan berbahan bakar minyak akan digantikan dengan kendaraan listrik di masa depan,” tuturnya.
Lima Kali Lebih Banyak
Kendaraan-kendaraan listrik tersebut membutuhkan baterai sebagai sumber energi penggerak. Salah satu komponen yang dibutuhkan dalam pembuatan baterai kendaraan ini adalah tembaga.
“Hampir sekitar 65% penggunaan tembaga di dunia ini adalah untuk fungsi-fungsi yang sifatnya sebagai konduktor. Kalau kita hubungkan ke depannya, tembaga akan digunakan empat kali lebih banyak di dalam EV vehicles,” tutur Harry.
Penggunaan tembaga juga empat sampai lima kali lebih banyak untuk energi yang lebih bersih dibandingkan dengan power generation konvensional. Itulah sebabnya, lanjut Harry, tembaga menjadi salah satu logam strategis di masa depan, yang akan menentukan posisi Indonesia dalam transisi energi bersih.
Baca Juga
Inilah Lima Perjanjian Kerja Sama Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik
Harry menjelaskan, jika melihat EV battery system secara lebih detail, tembaga ini hampir 11% dari komponennya. “Bila dilihat 20 kilogram tembaga dibutuhkan dalam satu modul battery, maka kalau Indonesia bisa memproduksi 600 ribu ton tembaga, berarti EV Battery tersebut akan cukup untuk 30 juta EV vehicles," imbuhnya. (CR-8)

