GIIAS 2024 Berakhir, Gaikindo Sebut Pamor Mobil Hybrid Meningkat
JAKARTA, investortrust.id - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) resmi menutup perhelatan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 yang diselenggarakan di ICE BSD pada 18 hingga 28 Juli 2024.
Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nangoi memprediksi jumlah pengunjung pemeran otomotof tersebut meningkat sebesar 2% hingga 5% disbanding perhelatan tahun sebelumnya. Capaian tersebut cukup menggembirakan karena animo masyarakat terhadap industri otomotif masih tinggi.
"Tapi indikasi menunjukkan bahwa jumlah pengunjung yang datang kira-kira naik sekitar 2%-5%," ucap Nangoi saat ditemui di acara GIIAS 2024, ICE BSD Tangerang, Sabtu (27/7/2024).
Apabila berkaca pada data GIIAS 2023, jumlah transaksi pada pameran otomotif bertaraf internasional tersebut bisa mencapai sebesar Rp 2,3 triliun dengan total pengunjung sebanyak 462.291 orang.
Baca Juga
Pertamina Tebar Promo dan Hadiah Menarik di GIIAS 2024, Cek Keseruannya
Meski belum mendapatkan total data transaksi atau penjualan pada GIIAS 2024 secara pasti, Nangoi menyebutkan penjualan mobil hybrid mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 2024, ia memprediksi angkanya bisa mencapai 70.000 unit hingga akhir tahun ini.
"Untuk mobil Hybrid kalau saya perhatikan dari 2022 cuma 10.000, 2023 naik menjadi 55.000, tapi 2024 bulan Mei kemarin sudah mencapai angka hampir 32.000. Kita bisa lihat mungkin hybrid di akhir tahun bisa sekitar 65.000 sampai 70.000 (unit) berarti ada peningkatan lagi," ungkapnya.
Nangoi pun mengakui mobil hybrid lebih laku dibandingkan dengan kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV). Ia menjelaskan, penjualan mobil listrik yang tidak mengalami peningkatan signifikan seperti hybrid dikarenakan masalah pembangunan infrastruktur.
Berdasarkan data yang dimiliki Gaikindo, penjualan mobil listrik pada 2022 lalu berkisar 10.000 unit, kemudian, meningkat sedikit ke angka 17.000 unit pada 2023. Sementara hingga Mei 2024, penjualan mobil listrik sudah sebanyak 13.000 unit dan diprediksi terus meningkat ke angka 30.000 unit sampai akhir tahun ini.
Baca Juga
Pertamina dan Toyota Kolaborasi Uji Coba Bioethanol 100% di GIIAS 2024
"Kenapa begitu yang pertama adalah mobil listrik membutuhkan infrastruktur khusus, jadi dia harus charge semuanya. Kemudian berikutnya bahwa harganya masih lebih tinggi daripada mobil biasanya, dan masyarakat masih memperhatikan," tandasnya.
Sementara itu, PT Toyota Astra Motor (TAM) mencatat terjadinya peningkatan penjualan pada penyelenggaraan GIIAS 2024, yakni membukukan sebanyak 4.245 surat pemesanan kendaraan (SPK). Angka ini meningkat 11% jika dibandingkan pameran tahun lalu.
Direktur Pemasaran PT TAM Anton Jimmi Suwandy pun menilai bahwa kenaikan pemesanan tersebut bisa menjadi salah satu tanda atau indikator kalau pasar di industri otomotif Tanah Air sudah mengalami perbaikan.
"Kenaikan dari pemesanan, juga SPK, dari GIIAS tahun ini sampai delapan hari pertama SPK naik 11 persen dibandingkan tahun lalu. Ini salah satu mungkin sebagai tanda-tanda perbaikan dari pasar," terang Anton.
Toyota mencatat penjualan paling laris terdapat pada merek Innova Zenix yakni sebanyak 981 unit pemesanan, kemudian Veloz 929 unit. Selain itu, 25% dari total pemesanan yang dibukukan adalah kendaraan elektrifikasi dari Toyota.
Anton mengungkapkan, 80% dari pemesanan kendaraan elektrifikasi Toyota adalah bersumber dari Innova Zenix yang merupakan kendaraan hybrid, dan 80% juga dari Alphard dengan jenis hybrid.
“Hal ini semakin membuktikan dan menguatkan elektrifikasi semakin diminati masyarakat,” ungkap Anton.
Lantas apakah data-data yang diungkapkan pada pameran GIIAS tersebut bisa meningkatkan penjualan mobil di Tanah Air? Pasalnya dalam beberapa tahun terakhir, penjualan mobil di Indonesia tidak dapat keluar dari angka 1 juta unit per tahun.
Menurut Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu, penurunan penjualan mobil baru sebesar 19,4% secara tahunan pada semester I 2024 menunjukan adanya tekanan yang signifikan pada pasar otomotif dalam negeri.
"Kondisi ini menandai potensi akan terjadinya kelesuan penjualan hingga akhir 2024, jika kondisi ekonomi global tidak membaik secara signifikan dan daya beli masyarakat middle income class Indonesia tetap rendah," papar Yannes saat dihubungi investortrust.id.

