Ekspor Capai US$ 91,65 M, Menperin: Manufaktur Tulang Punggung Ekonomi Nasional
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan ekspor industri pengolahan nonmigas pada semester I 2024 mencapai US$ 91,65 miliar atau 73,27% dari total ekspor nasional.
“Dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 18,82 juta,” ucap Menperin Agus pada acara Pameran dan Seminar Jasa Industri di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (23/7/2024).
Lebih lanjut, Menperin Agus pun menyebutkan bahwa sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi andalan atau tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal itu ditandai dengan nilai yang dihasilkan pada triwulan I 2024.
Baca Juga
Menperin Agus: Nilai Tambah Manufaktur RI US$ 255 Miliar, Peringkat ke-12 Dunia
“Sektor industri pengolahan non-migas pada Triwulan I tahun 2024 tetap menjadi penyumbang PDB nasional terbesar, yaitu 17,47% dengan pertumbuhannya sebesar 4,64%, dan memberikan penerimaan pajak terbesar hingga 26,9%,” terangnya.
“Selain itu, realisasi investasi sektor industri manufaktur pada periode ini mencapai 38,73% dengan nilai Rp 155,5 triliun,” tambah Menperin Agus.
Sebelumnya, Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita juga memaparkan nilai tambah manufaktur atau value added manufacturing Indonesia pada 2023 mencapai US$ 255 miliar. Angka tersebut didapat berdasarkan data yang dirilis oleh World Bank.
Baca Juga
PMI Manufaktur Turun, Kemenkeu Formulasikan Kebijakan Dorong Ekonomi
Pencapaian nilai tambah manufaktur tersebut pun mengantarkan Indonesia menempati posisi ke-12. Dalam data yang dipaparkan World Bank, posisi Tanah Air di bawah Amerika Serikat, Jepang, India, Jerman, Korea Selatan, Meksiko, Italia, Perancis, Brazil, dan Inggris.
"Namun demikian, posisi Indonesia ini jauh di atas Thailand (Peringkat 22 dengan nilai US$ 128 miliar) dan Vietnam (Peringkat 24 dengan nilai US$ 102 miliar)," ungkap Menperin Agus.
"Artinya, struktur manufaktur yang dimiliki Indonesia ini, lebih dalam dan tersebar merata sehingga memiliki nilai tambah (Value Added) yang jauh lebih besar daripada Thailand dan Vietnam yang nilai MVA-nya hanya setengah dari nilai MVA Indonesia," tambahnya.

