Wamen BUMN: Dividen BUMN Besar, Digabung Pajak dan PNBP Jauh Lebih Besar Lagi
JAKARTA, Investortrust.id - Selama ini publik mengakui porsi dividen yang dihasilkan perusahaan pelat merah atau BUMN sudah sangat besar. Namun sejatinya kontribusi atau dampak nyata BUMN pada perekonomian jauh lebih besar jika dilihat dari sumbangan berupa pajak dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) yang dihasilkan oleh BUMN.
“Kita selalu diberitakan dari kacamata kontribusi dividen yaitu Rp 81 triliun. Tapi kita kontribusi ke pajak dan PNBP juga signifikan sekali,” kata Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo dalam kesempatan Media Gathering yang digelar di Mandiri Club, Jumat (12/7/2024). “Jadi ini PNBP, pajak, terutama di sektor mineral, di oil and gas. Itu kan ada PNBP dari sisi royalti mineral, royalti minyak, itu besar sekali,” imbuhnya.
Baca Juga
Dalam paparannya disampaikan, dalam tiga tahun terakhir, besaran dividen BUMN yang disetor ke pemegang saham dalam hal ini pemerintah terus mencatatkan peningkatan. Sebut saja di tahun 2021 dividen BUMN yang disetor tercatat Rp30 triliun, dan meningkat menjadi Rp40 triliun pada tahun 2022. Berikutnya di tahun 2023 dividen yang disetor BUMN mencatatkan rekor tertinggi di angka Rp81 triliun.
Nah jika dilihat dari kontribusi BUMN berupa dividen, pajak dan PNBP, maka angka yang disetorkan menjadi sangat signifikan. Pada tahun 2021 gabungan dari tiga komponen kontribusi tersebut tercatat sebesar Rp420 triliun, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp385 triliun. Memasuki tahun 2022, kontribusinya kembali meningkat menjadi 591 triliun. Lalu pada tahun 2023 kontribusi gabungan dari dividen, pajak dan PNBP kembali membengkak menjadi Rp 636 triliun.
Disampaikan pria yang akrab disapa Tiko, penyumbang dividen terbesar masih didominasi oleh lima BUMN utama, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk dengan sumbangan dividen sebesar Rp23,2 triliun, PT Pertamina sebesar Rp14 triliun, diikuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp12,8 triliun, lalu PT Telkom Indonesia Tbk sebesar Rp8,6 triliun dan MIND ID Rp7,5 triliun.
Baca Juga
Dulu dari Utang Luar Negeri, Kini Dana Penyertaan Modal Negara Berasal dari Dividen BUMN
Berikutnya dikemukakan mantan Dirut Bank Mandiri ini, saat ini sejumlah BUMN dengan kapitalisasi menengah juga sudah mulai memberikan kontribusi laba dan dividen yang baik, setelah Kementerian BUMN melakukan stabilisasi usaha mereka. Ia menyebut salah satunya adalah holding kepelabuhanan PT Pelindo, PT Angkasa Pura, hingga PT ASDP Ferry dan Perhutani.
Namun demikian ia mengakui masih ada BUMN yang ‘sakit’ dan masih harus dilakukan penyehatan. “Masih ada yang sakit-sakit juga. Yang sakit-sakit mungkin sekitar di bawah -10% dari total portfolio (BUMN) kita,” ujarnya.

