Menteri ESDM Pimpin Sidang DEN, Bahas Progres RPP KEN hingga Harga Energi
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, selaku Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) memimpin Sidang Anggota Ketiga Tahun 2024. Salah satu isu yang dibahas adalah progres Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN).
Sebelumnya, pada Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (8/7/2024), RPP KEN sudah mendapatkan persetujuan dari fraksi-fraksi Komisi VII DPR untuk dapat dibahas di level yang lebih lanjut.
Selanjutnya, akan dilaksanakan sejumlah agenda lanjutan pada masa reses, di antaranya Focus Group Discussion (FGD) dan sinkronisasi materi yang sudah diusulkan oleh fraksi-fraksi di Komisi VII DPR RI. Oleh karena itu, Arifin Tasrif menekankan agar pembahasan detil mengenai RPP KEN dapat diselesaikan pada masa reses.
"Perlu kita bahas supaya PP KEN ini bisa jalan. Jangan kita menyusunnya dengan berbelit-belit. Tetapi harus memiliki dasar hukum yang kuat. Contohnya mengenai infrastruktur energi, ini perlu betul dipertebal," kata Arifin dalam keterangan resmi, Rabu (10/7/2024).
Baca Juga
Selain progres RPP KEN, Sidang Anggota DEN ini juga membahas mengenai progres pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Arifin menyebut, PLTN sendiri sudah disertakan dalam target capaian Net Zero Emission (NZE) 2060.
Maka dari itu, Arifin menekankan perlunya alur birokrasi yang efisien, serta mempelajari keandalan teknologi dan progres yang sudah dilakukan oleh negara-negara yang memanfaatkan energi nuklir seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Korea Selatan.
"Kita melihat mekanisme bagaimana mereka menggunakan energi nuklir itu bisa cepat. Kita jangan lagi memilih alur birokrasi yang terlalu panjang. Mungkin nanti kita cukup punya tim ahli untuk me-review teknologi, keandalan, dan keekonomian,” ujar dia.
“Kemudian mekanisme persetujuannya mungkin ke depannya seperti energi-energi biasa. Ini yang perlu kita pikirkan, jangan terlalu melibatkan banyak aturan. Kita contoh saja, kalau teknologinya sudah proven, negara lain bisa menggunakan, kita adopsi saja," sambungnya.
Baca Juga
Pertamina Gencarkan Energi Transisi lewat Green Refinery Cilacap
Sementara itu, terkait harga energi, berdasarkan data pada Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia (HEESI), harga minyak dunia dinilai cukup tinggi akibat pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19 dan terjadinya konflik yang mempengaruhi permintaan energi secara global.
Selain itu, harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg belum mengalami perubahan sejak tahun 2008. Harga LPG yang tidak bersubsidi juga mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Kemudian, tarif listrik di Indonesia juga relatif lebih rendah dibandingkan tarif di negara ASEAN.
Menanggapi isu tersebut, Arifin mendorong adanya percepatan program Jaringan Gas Kota (Jargas) serta mengupayakan harga gas yang ekonomis dan terjangkau bagi masyarakat.
"Sekarang bagaimana kita bisa melakukan percepatan program jargas. Pemerintah juga mengupayakan harga fit gas itu yang ekonomis dengan memperhitungkan biaya yang dikeluarkan untuk jargas ini dengan ongkos subsidi LPG dalam jangka panjang," sebutnya.

