Bangun Jaringan, Indosat (ISAT) Habiskan US$ 2 Miliar Selama 2 Tahun
JAKARTA, investortrust.id - PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) telah berinvestasi sebesar US$ 2 miliar atau Rp 32,50 triliun (kurs Rp 16.251/US$) selama dua tahun terakhir untuk membangun jaringan telekomunikasi di Indonesia.
Presiden Direktur IOH Vikram Sinha mengungkapkan sebanyak 60% dari investasi tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur digital. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keberagaman demografis tentunya menjadi tantangan pembangunan infrastruktur digital di Tanah Air.
"Secara demografi, Indonesia mirip dengan Eropa. Intensitas belanja modal secara global pendapatannya 12%, di Indonesia lebih dari 20%. Jadi, saya sangat sadar tentang potensi yang besar ini," katanya dalam diskusi bertajuk “Tech & Telco Forum 2024” pada Jumat (5/7/2024) di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan.
Baca Juga
Nokia Gandeng Indosat Ooredoo Gembleng Talenta Digital, Fokus Adopsi Kecerdasan Buatan
Vikram juga menyebut IOH bekerja sama dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk untuk membangun infrastruktur digital di Indonesia, termasuk ke wilayah perdesaan. Dia meyakini infrastruktur digital yang kuat tidak bisa terwujud tanpa adanya kolaborasi aktif dengan berbagai pihak.
Vikram berharap kolaborasi untuk membangun infrastruktur digital di Indonesia mendapatkan dukungan dari pemerintah. Adapun, dukungan yang dimaksud adalah regulasi yang mengatur pelaku industri telekomunikasi untuk berkolaborasi.
"Kolaborasi yang dilakukan paling pertama harus bermanfaat bagi Indonesia, bagi masyarakat Indonesia. Kedua, kolaborasi ini harus berdampak baik bagi mitra lokal di lapangan,” tegasnya.
Gandeng Starlink Bangun Internet Desa
Sebelumnya, Director & Chief Business Officer IOH Danny Buldansyah mengungkapkan bahwa pihaknya sedang membangun jaringan internet bagi 1.023 desa. Satelit orbit bumi rendah atau low earth orbit (LEO) Starlink menjadi opsi untuk mendukung jaringan tersebut sebagai jaringan pengalur atau backhaul.
Baca Juga
Indosat Pastikan Pembocor Username dan Password PDNS Bukan Karyawan Lintasarta
“Starlink menjadi salah satu solusi. Tetapi bukan hanya Starlink. Kami dengan Satria (Satelit Republik Indonesia) juga,” kata Danny di Kantor Pusat IOH, Jakarta Pusat. Kamis (4/6/2024).
Sebagai catatan, pemerintah pada 19 Juni 2023 meluncurkan Satria-1 untuk memenuhi kebutuhan internet untuk layanan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan dengan kapasitas 150 Gbps atau menghasilkan kecepatan internet 3-5 Mbps (megabit per detik). Satelit tersebut merupakan satelit konvensional yang mengorbit di orbit bumi geostasioner atau geostationary earth orbit (GEO).
Starlink menjadi pertimbangan lantaran pemanfaatan satelit konvensional kapasitasnya terbatas. Alhasil, kecepatan koneksinya akan melambat ketika digunakan bersamaan oleh banyak pengguna.
“Kami sebagian besar menggunakan satelit yang tradisional, itu kecepatannya untuk pengguna di desa bisa di bawah setengah Mbps ketika yang memakai 100 orang secara bersamaan,” ungkapnya.
Meskipun demikian, Danny memastikan bahwa perusahaan milik Elon Musk itu tidak akan menjadi opsi tunggal untuk mendukung jaringan internet desa IOH. Pihaknya juga mempertimbangkan penyedia layanan satelit LEO lainnya yang mulai gencar menawarkan layanannya ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

