Pemerintah Ingin Bangun Industri Kendaraan Listrik, Demand dan Ekosistem Masih Jadi Perhatian
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan untuk bisa membangun industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia maka mesti diperhatikan juga demand (permintaan) dari masyarakat.
Sebagaimana diketahui, pemerintah sedang mendorong industri baterai kendaraan listrik. Staf Khusus Menteri ESDM, Agus Cahyana menerangkan, agar pabrik baterai tersebut bisa sustain, maka dibutuhkan demand yang mencukupi di dalam negeri.
“Kita harus lihat baterai dipakai untuk apa? Dipakai untuk kendaraan. Nah oleh karena itu kalau kita ingin bagus, sustain, kita harus punya demand yang cukup di dalam negeri. Agar pabrik-pabrik itu bisa mengandalkan pasar luar negeri itu sebagai komplementer. Itu konsep dasarnya,” kata Agus saat ditemui di gedung Kementerian ESDM, Jumat (5/7/2024).
Untuk bisa mendapatkan demand yang besar, Agus mengatakan bahwa masih banyak hal yang mesti dibenahi. Di antaranya adalah soal harga dan juga kesetaraan ekosistem antara kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik.
Baca Juga
Kucurkan Pinjaman Rp 72 Miliar, Indika Energy (INDY) Dorong Pertumbuhan Kendaraan Listrik
Agus menilai banyak masyarakat yang masih belum mau beralih ke kendaraan listrik karena ekosistem EV-nya belum memadai. Menurutnya, tak sedikit masyarakat yang masih khawatir akan kehabisan baterai di tengah jalan dan tidak bisa mengecas.
“Treatment terhadap mobil juga harus equal, sehingga orang itu sekarang itu kan berpikir, ‘Duh pakai mobil ini berapa kilo ya? Nanti nge-charge di mana ya?’ Jadi infrastruktur pada ekosistem dari EV itu harus makin lengkap,” jelas Agus.
Untuk bisa mengembangkan industri EV ini, Agus mengakui bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, termasuk dalam menyiapkan seluruh ekosistem kendaraan listrik agar bisa memfasilitasi masyarakat dengan baik.
“Mulai dipikirkan ada (seperti) Pertamini. Jadi ada colokan mini, nah kayak gitu ya. Saya kira itu yang akan membuat orang berpikir sama antara kendaraan bensin dengan non-bensin,” terang dia.
Baca Juga
IESR Sebut RI Butuh 100 Juta Kendaraan Listrik di 2030 untuk Penuhi Target Paris Agreement
Lebih lanjut Agus juga menyampaikan faktor lainnya yang mesti dipertimbangkan adalah soal harga kendaraan listrik itu sendiri. Ia tidak memungkiri bahwa harga kendaraan listrik masih relatif mahal. Namun, menurutnya, masyarakat akan tertarik jika beli motor listrik bisa dicicil dengan DP murah.
“Setelah ekosistem oke, kemudian after sales. Nah terus yang juga harus diingat, belinya kalau boleh nyicil ya. Itu persis sama seperti yang dilakukan orang dengan Rp 500.000 dapat motor. Nah itu yang barangkali memang harus sama-sama kita kembangkan supaya equal gitu,” sebut Agus.

