PMI Manufaktur Melambat, Kemenperin Harap Pelaku Industri Tetap Optimistis
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, sektor manufaktur masih menunjukkan kinerja positif hingga Juni 2024. Kondisi ini terlihat pada ekspansi Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur sebesar 50,7.
Kendati begitu, angka kinerja PMI manufaktur Tanah Air tersebut melambat jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni Mei 2024 yang mana PMI manufaktur Indonesia berada di level 52,1.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif berharap pelaku usaha di sektor industri mampu mempertahankan, serta menjaga bisnisnya di tengah kondisi bisnis yang mengalami perlambatan permintaan.
“Terutama dalam kondisi bisnis yang dipengaruhi oleh perlambatan permintaan saat ini,” ucap Febri dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/7/2024).
Baca Juga
Namun, Febri menggaris bawahi laporan S&P Global yang menyebutkan, pertumbuhan sektor manufaktur kehilangan momentum pada Juni 2024. Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan yang lebih lambat pada output, permintaan baru, dan penjualan.
Menurutnya, kondisi tersebut juga memengaruhi kepercayaan diri terhadap output 12 bulan mendatang, yang tidak bergerak dari posisi terendah seperti pada Mei lalu dan satu di antara yang terendah dalam rekor.
“Sektor industri saat ini memang sudah masuk ke kondisi alarming. Para pelaku industri menurun optimismenya terhadap perkembangan bisnis mendatang,” ungkapnya.
Lebih lanjut kata dia, hal ini dipengaruhi oleh melemahnya pertumbuhan pesanan baru yang dipengaruhi oleh kondisi pasar, restriksi perdagangan di negara lain, juga regulasi yang kurang mendukung.
Baca Juga
Kemenperin Siapkan Insentif bagi 10 Pabrik Rumput Laut Mangkrak
Regulasi yang dimaksud, menurut Febri, adalah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Aturan tersebut merelaksasi impor barang-barang dari luar negeri yang sejenis dengan produk-produk yang dihasilkan di dalam negeri.
Febri pun mengungkapkan bahwa hal tersebut menyebabkan turunnya optimisme para pelaku industri, yang berpengaruh pada penurunan PMI.
“Tidak seperti sebagian negara peers yang mengalami kenaikan PMI manufaktur, di Indonesia turun cukup dalam. Perlu adanya penyesuaian kebijakan untuk mendongkrak kembali optimisme dari pelaku Industri,” tandas Febri.

