Penipuan Deepfake Melonjak 900%, VIDA Luncurkan Ini untuk Lindungi Fintech Syariah
JAKARTA, investortrust.id - Penyelenggara sertifikat elektronik (PSE), VIDA, mengeluarkan VIDA Deepfake Shield sebagai solusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang memungkinkan institusi fintech syariah terlindung dan mampu memerangi penipuan lewat deepfake secara efektif.
PSE yang berlisensi dan tersertifikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) itu menerbitkan VIDA Deepfake Shield sebagai jawaban atas maraknya penipuan melalui deepfake yang dalam beberapa tahun terakhir melonjak 900% lebih.
Baca Juga
DPR Kritik Keras BSSN Usai Serangan Siber ke Pusat Data Nasional: Ini Kebodohan Nasional
Menurut SVP Product VIDA, Ahmad Taufik, dengan mengadopsi VIDA Deepfake Shield, institusi financial technology (fintech) syariah dapat membangun pertahanan yang kuat melawan deepfake. Hal itu akan memperkuat ekosistem keuangan digital yang aman dan tepercaya.
”Berbagai serangan siber di sektor fintech, termasuk fintech syariah, perlu menjadi perhatian bersama. Penerapan langkah-langkah keamanan siber dalam setiap transaksi digital sangat penting dilakukan untuk menjaga kepercayaan nasabah,” ujar Taufik dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/6/2024).
Deepfake adalah teknologi manipulasi video dan audio menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan konten yang membuat orang terlihat atau terdengar melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dilakukan. Teknologi yang muncul pada 2017 ini terus berkembang dengan kemampuan yang kian canggih dalam mengubah wajah dan suara seseorang dalam video.
Ahmad Taufik mengungkapkan, mitigasi risiko peretasan pada sejumlah simpul keamanan siber layanan fintech syariah akan menentukan seberapa jauh ekosistem keuangan digital syariah yang aman dan tepercaya bisa terwujud.
Berdasarkan laporan Whitepaper VIDA, kata Taufik, penipuan deepfake pada 2017-2019 melonjak 900% lebih. Teknologi tersebut semakin mampu mengelabui sistem keamanan biometrik, termasuk teknologi pengenalan wajah untuk verifikasi dan autentikasi identitas.
Bahkan, menurut Taufik, salah satu kasus penipuan perbankan menggunakan teknologi deepfake baru-baru ini menyebabkan sebuah institusi keuangan di Hong Kong menderita kerugian US$ 25 juta atau sekitar Rp 392 miliar.
Dia menjelaskan, saat ini deepfake juga menjadi ancaman yang serius bagi sektor fintech syariah. Itu sebabnya, teknologi verifikasi identitas secara realtime ketika melakukan transaksi, seperti VIDA Deepfake Shield, menjadi kunci pertahanan terhadap serangan.
Taufik menambahkan, melalui VIDA Deepfake Shield, foto pengguna dengan cepat akan dianalisa dari sisi kualitas maupun otentisitas. “VIDA Deepfake Shield akan memastikan keamanan perangkat dan kamera yang digunakan, sekaligus pemanfaatan AI untuk memberikan sinyal jika ada kemungkinan fraud," papar Ahmad Taufik.
Baca Juga
Usai Pusat Data Nasional Diserang Siber, Menkeu Ungkap Belanja Data Center Kominfo Rp 700 Miliar!
Perusahaan keamanan siber, Kaspersky, mengeklaim berhasil memblokir total 5.863.955 ancaman online selama periode Januari hingga Maret tahun ini. Sementara itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyatakan, terdapat 204 juta lebih serangan siber di Indonesia sejak Januari hingga Juni 2023. Sektor keuangan menempati peringkat ketiga yang paling banyak menerima serangan siber.
Oleh sebab itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) dan Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) berupaya memitigasi praktik kecurangan di sektor fintech dengan meluncurkan Panduan Strategi Anti-Fraud Penyelenggara Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) untuk membangun kepercayaan masyarakat.

