Industri Farmasi hingga Manufaktur Dinilai Paling Terdampak Pelemahan Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menyebutkan sejumlah industri atau sektor yang paling terdampak akibat pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang terjadi belakangan ini.
Menurut Faisal, sektor yang paling terdampak adalah farmasi atau kesehatan. Kemudian, industri manufaktur, seperti otomotif, elektronik, makanan hingga tekstil akan mengalami hal serupa.
Faisal menjelaskan, dampak yang merugikan sektor-sektor tersebut dikarenakan masih ketergantungan pada bahan baku impor. Sehingga akan mempengaruhi deretan industri dalam negeri itu.
Baca Juga
Rupiah Menguat usai Pemerintah Pastikan Jaga Disiplin Fiskal
“Yang paling besar ketergantungan impor pada sektor-sektor, seperti obat-obatan, farmasi, tapi juga kita lihat industri manufaktur seperti otomotif, elektronika, itu cukup lumayan dari sisi bahan baku dan penolongnya kita impor dari luar,” ucapnya kepada investortrust.id, Senin (24/6/2024).
“Industri tekstil kita tahu juga bahwa kapas, kita mengimpor, lalu industri makanan beberapa bahan antaranya itu kita belum cukup produksinya di dalam negeri ya,” tambah Faisal.
Jika nilai rupiah terhadap dolar terus tertekan dan berimbas pada impor, maka hal tersebut akan mempengaruhi nilai produk maupun barang jadi dalam negeri. Sehingga akan mengakibatkan biaya ekonomi semakin tinggi.
“Untuk dampaknya tentu saja kalau terjadi pelemahan akan membuat barang-barang impor akan lebih mahal, dan artinya akan mengakibatkan ekonomi biaya tinggi bagi konsumen di dalam negeri,” tandasnya.
Seperti dilansir Yahoo Finance, pada perdagangan hari Senin (24/6/2024) hingga pukul 15.30 WIB mata uang rupiah berada di level Rp 16.390 per dolar AS, atau menguat 54 poin dari level sebelumnya.

