Menperin Dorong HGBT untuk Semua Sektor yang Butuh, Ini Kata Menteri ESDM
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengusulkan agar jumlah penerima harga gas bumi tertentu (HGBT) alias gas murah bisa diperluas. Hal itu karena banyak sektor industri lain yang juga membutuhkan gas murah.
Diketahui, saat ini hanya ada tujuh sektor industri yang diperbolehkan mendapatkan gas HGBT, yakni industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.
“Semua sektor yang membutuhkan gas sebagai bahan baku harus dapat (HGBT),” kata Agus Gumiwang di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (24/6/2024).
Baca Juga
Para penerima HGBT sejatinya bisa mendapatkan gas di bawah harga pasar, yakni senilai US$ 6 per million british thermal units (MMBTU). Namun, kebijakan HGBT ini akan berakhir pada 2024, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) No. 91/2023.
“Usulannya tetap kita konsisten harus diperpanjang. Harus dilanjutkan dan harus semua sektor,” tegas Agung Gumiwang.
Sementara itu, Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menyampaikan bahwa saat ini masih perlu dilakukan kajian-kajian lebih dulu untuk menentukan sektor industri mana saja yang layak menerima bantuan HGBT.
Baca Juga
Berperan Penting dalam Hilirisasi Sawit, Gapki Harap Program HGBT Dilanjut
“Ya kita lihat-lihat dulu, mana yang mampu, mana yang tidak, yang perlu ditolong, sama yang bisa berdiri sendiri,” sebut dia.
Terkait dengan suplai HGBT yang berasal dari gas pipa, Arifin menyebut bahwa saat ini masih cukup aman. Pasokan gas pipa sendiri bergantung pada infrastruktur pipa transmisi.
Arifin mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera memulai pembangunan pipa Cirebon-Semarang (Cisem) Tahap II ruas Batang-Kandanghaur Timur. Nantinya, pipa tersebut akan mengalirkan pasokan gas yang belum terserap industri dari lapangan, seperti Jambaran Tiung Biru (JTB).
“Jadi memang yang sekarang ini gas pipa kan ada 100 MMSCFD dari Tiung Biru yang enggak bisa tersalur. Kalau misalnya US$ 6, US$ 600 ribu sehari. Nah, itu yang percepat ini Cisem II,” ujar Arifin.

