Pengamat Energi Ini Soroti Sektor Industri dan Transportasi untuk Tekan Emisi Karbon
JAKARTA, investortrust.id – Mantan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2020-2025, Satya W Yudha mengatakan, final energy demand pada empat sektor (transportasi, residential/properti, industri, komersial) Indonesia di tahun 2060 diproyeksikan sebesar 397 juta tonnes oil equivalent (TOE). Dari angka tersebut sektor industri dan transportasi menjadi penyerap terbesar.
Pada tahun 2060, sektor industri menurut Satya diproyeksikan bakal mencatatkan energy demand sebesar 247 juta TOE dan sektor transportasi diproyeksikan sebesar 83 juta TOE.
Dengan catatan proyeksi tersebut, Satya pun menyarankan agar pemerintah dan para stake holder fokus pada upaya menekan tingkat emisi di dua sektor tadi. “Kita lihat, ternyata di tahun 2060, itu 247 juta TOE sendiri itu dimakan oleh (sektor) industri. Transportasi sekitar 83 juta TOE. Kalau kita komitmennya pengurangan emisi, ya kita garap saja dua sektor ini,” kata Satya dalam acara Investortrust Power Talk: Energy Series di Perpustakaan Habibie & Ainun, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/6/2024).
Pemerintah Indonesia sendiri telah berkomitmen pengurangan emisi di sektor energi sebesar 358 juta ton CO2 atau 12,5% dengan kemampuan sendiri di tahun 2030. Sementara itu dengan bantuan internasional akan bisa ditekan sebesar 446 juta ton CO2 atau 15,5%, sesuai dokumen Nationally Determined Contribution (NDC).
Baca Juga
Sumber Daya Batu Bara Indonesia 97,29 Miliar Ton, Apa Yang Bakal Dilakukan Pemerintah?
Satya menyebut, jika sektor industri dan transportasi mendapatkan tekanan khusus dalam menekan emisi karbon, maka Indonesia diperkirakan akan mampu mengurangi emisi karbon hingga 446 juta ton CO2 di tahun 2030.
“Kalau kita bisa menggarap industri dan transportasi, kira-kira pengurangan emisi yang 446 juta ton CO2 di tahun 2030 tadi bisa kita penuhi,” ujar Satya.
Perlu diketahui, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target pengurangan emisi karbon sebesar 912 juta ton CO2 atau sebesar 32% pada tahun 2030, yang termaktub di dalam Enhanced-Nationally Determined Contribution (E-NDC). Sementara target penyusutan emisi sektor energi dipatok sebesar 358 juta ton CO2 di tahun 2030.
Dalam paparan, Satya juga menjelaskan kerja sama dan komitmen yang dilakukan Indonesia untuk mencapai NZE 2060 yakni membuat regulasi seperti Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.
Kemudian, pendanaan transisi energi dari Just Energy Transition Partnership (JETP) sebesar US$20 miliar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Indonesia juga telah bekerja sama dengan Jepang melalui pendanaan Asia Zero Emissions Community (AZEC) sebesar US$8 miliar guna mendorong dekarbonisasi se-Asia.

