Luhut Sebut BTS Bakal Tergantikan Satelit Starlink, Begini Tanggapan Kemenkominfo
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akhirnya angkat bicara terkait kemungkinan digantikannya peran stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) oleh Starlink dengan satelit-satelitnya.
Menko Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan membuat geger lewat pernyataannya bahwa peran BTS akan tergantikan oleh satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) Starlink.
"Sudah nggak perlu ada BTS-BTS, orang udah ada Starlink," kata Luhut dalam gelar wicara bertajuk ‘Ngobrol yang Paten-Paten Aja Bareng Menko Marinves’ yang dipantau secara daring melalui kanal YouTube IDN Times, Rabu (5/6/2024).
Baca Juga
Punya Beberapa Kelemahan, Starlink Masih Belum Bisa Gantikan Peran BTS
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo), Nezar Patria mengatakan, perkembangan teknologi sangat mungkin mendisrupsi atau mengubah ekosistem telekomunikasi yang ada saat ini. Salah satunya satelit LEO yang teknologinya masih terus dikembangkan, tidak hanya oleh Starlink.
“Teknologi kan terus berubah, kita lihat disrupsi teknologi yang baru itu akan mengubah lanskap keseluruhan atau mungkin sebagian. Tetapi kan ini masih berproses, masih dilihat dulu,” kata Nezar Patria ketika ditemui di Gedung Utama Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2024).
Nezar tak menampik bahwa apa yang disampaikan oleh Luhut menimbulkan perdebatan. Dia menilai pernyataan Menko Marves dilontarkan dengan perspektif dari sisi teknologi.
“Mungkin Pak Luhut (bicara) dari perspektif teknologi bahwa teknologi lama digantikan teknologi baru, tetapi kita lihat sesuai prosesnya,” ujar dia.
BTS Tetap Dibutuhkan
Sebelumnya, Executive Director Indonesia Information and Communications Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi menjelaskan, konektivitas satelit memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya jeda koneksi atau latensi yang tinggi dibandingkan jaringan kabel serat optik atau seluler berbasis BTS.
Menurut Heru, walaupun diklaim latensinya lebih rendah dari satelit konvensional di orbit geostasioner atau geostationary earth orbit (GEO), tetap saja satelit LEO belum bisa mengalahkan jaringan teresterial di permukaan bumi.
“Satelit latensinya tinggi. Jadi, kalau untuk aktivitas streaming bisa agak ada waktu tunda. Belum lagi kalau ada cuaca hujan, ada badai matahari, serta perpindahan posisi matahari yang akan berdampak pada kualitas layanan,” kata dia ketika dihubungi investortrust.id, Kamis (6/6/2024).
Konektivitas satelit, kata Heru, merupakan pelengkap jaringan kabel serat optik dan seluler. Bahkan, masing-masing sebenarnya saling memiliki ketergantungan ketika terjadi bencana atau gangguan teknis.
Baca Juga
Menko Luhut: Sudah Ada Starlink, Menara BTS Tidak Diperlukan Lagi
“Ketika seluler dan kabel serat ramai digunakan, banyak yang mengatakan satelit akan mati. Tapi, ketika kabel serat optik putus di Hong Kong, mitigasi jaringan vital dalam negeri dilakukan pakai satelit. Jadi, ini akan saling mengisi dan menjadi back up (Cadangan),” papar dia.
Heru Sutadi mengungkapkan, ketika dibutuhkan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah untuk kebutuhan bergerak (mobile), layanan seluler memerankan fungsinya. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan di satu titik yang tetap, kabel serat optik menjadi andalan.
“Sehingga walaupun ada Starlink, seluler tetap dibutuhkan. Seluler dibutuhkan, menara telekomunikasi tetap dibutuhkan,” tegas dia.

